Ketika SMA

Standar

Ketika saya masih SMA dulu boleh dikatakan termasuk salah satu pelajar yang banyak digandrungi oleh cewek. Muka ganteng dengan dagu terbelah dan badan yang tegap. Terus terang saja saya juga sering melakukan hubungan seks dengan beberapa teman ceweq di sekolah ku itu yang memang menganut freesex. Meskipun demikian saya masih memilih yang benar-benar sesuai dengan selera saya. Tidak heran kalau setiap akhir minggu ada saja telepon berdering mengajak nonton atau pesta yang kemudian berakhir dengan hubungan intim. Saat itu saya juga mempunyai pacar dia adalah adik kelas, Nama nya Lusi, Lusi adalah gadis yang cantik dan sexy menurut saya, Wajahnya manis, lugu, ditambah lagi dengan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya gadis 17 tahun yang berdarah Belanda ini sangat proposional, pinggangnya ramping, rambutnya panjang, tingginya sekitar 150 cm, tetapi sintal. Pantatnya dan payudaranya besar kira-kira payudaranya berukuran 36C. Perkenalan kami di mulai dengan makan di kantin sekolah… Waktu itu saya makan di kantin dan saya di tegur oleh adik kelas saya. Saya tidak kenal dia, soal nya saya belom kenal sama sekali dengan Lusi waktu itu, tapi Lusi sudah kenal saya…? Soal nya saya waktu itu salah satu anak yang paling bandel dan nakal di SMA itu, makanya banyak yang kenal saya tapi saya gak kenal hahahahaha… biar nakal, saya selalu masuk ranking 3 besar loh…, panggilan Lusi waktu itu saya jawab “ada apa?” dia waktu itu panggil aku dengan kakak, “Boleh saya duduk dengan kakak?” balasnya “Boleh sini” jawab saya dan kami pun makan bersama. Setelah kejadian itu kami pun agak akrab, tapi saya belom kepikiran suka apa tidak suka dengan Lusi. Banyak dari teman teman dari kelas dua yang suka sama Lusi, tapi semuanya di tolak oleh nya… Pada suatu siang, tanggal, hari dan tahun nya saya lupa… seingat saya waktu itu pulang sekolah, saya di kenal kan dengan temen nya Lusi nama nya, Vinna, Poppy dan Ratna Ratna berusia 17 tahun Badannya tinggi (hampir setinggi saya. Kalo pake hak tinggi pasti saya kalah tinggi). Bodinya sexy sekali dan yang paling bikin saya gemes adalah payudaranya yang gede banget. Kira-kira 36 B ukuran bra nya dan kulitnya yang putih sehingga kalo rambut panjangnya di gelung ke atas (warnanya asli merah), akan menampakkan tengkuknya yang jenjang, bikin saya ingin mengelus dan mencium tengkuknya itu. Vinna berusia 16 tahun, rambutnya lurus panjang sebahu, kulitnya putih mulus, yang saya tahu dari teman-teman dia itu masih ada darah Manado. Beratnya kira-kira 50 kg. Tubuhnya cukup tinggi untuk gadis seusianya 172 cm. Cocok denganku yang memiliki tinggi 183 cm. Rambutnya panjang, hitam, mengkilat. Kulitnya putih, lembut walaupun ia menyukai olah raga. Dadanya cukup besar. Kira-kira 34C Sedangkan Poppy berusia 18 tahun orangnya imut, kulit nya lebih hitam di banding yang lain (apa karena keturunan arab kali ya) tapi manis. Rambutnya panjang, hidungnya mungil dan mancung, bibirnya tipis, payudara Poppy kira-kira berukuran 32b (memang serasi untuk ukuran tubuh Poppy yang bertinggi 165 cm, jadi terlihat sexy). Sejak perkenalan pertama dengan Ratna, Vinna dan Poppy, saya malah sering pergi jalan-jalan dengan mereka bertiga ketimbang dengan Lusi. Karena Lusi termasuk anak yang gak suka ngelayap kalau gak ada perlunya, salah satu sifatnya inilah yang bikin syaa suka sama dia. Kalau gak salah hari Sabtu, 1 minggu setelah perkenalan saya dengan Ratna, sewaktu masuk masuk kelas, saya lihat ada secarik kertas yang isinya ternyata dari Lusi yang menyatakan Lusi ingin ketemu dengan saya di kantin, saya pun menemuinya sewaktu bel istirahat pertama di kantin. Sesampainya di Kantin saya menemui Lusi sedang duduk sendirian di meja paling pojok, saya mendekati nya dan menegurnya “Lusi ada apa?” “Lusi ingin bicara sama Anton” jawabnya. “Soal apa sih?” tanyaku, dengan wajah yang tertunduk, dia menjawab “Soal Ratna…” “Ada apa dengan Ratna?”, balasku “Kemarin sewaktu Ratna main ke rumah saya, dia cerita kalau dia sayang kamu dan cinta kamu”, saya pun kaget mendengar kata-kata Lusi… betapa tidak kaget, karena selama ini saya sayang dan cinta hanya sama Lusi. Dan saat itu juga saya berterus terang kalo saya sayang dan cinta sama Lusi, bukan sama Ratna temannya itu, setelah mendengar kata-kata saya. Lusi malah terbenggong dan diam tanpa kata sepatah pun, saya tunggu jawabannya tapi sepertinya gak akan ada, saya pun langsung bangkit dan kembali ke kelas dengan hati yang penasaran. Keesokan harinya sesampainya di sekolah, waktu itu kalau gak salah masih jam 6:30 pagi dan saya waktu itu sedang duduk di pinggir lapangan basket. Ratna mendekatin saya dan duduk disebelah saya, dia bilang kalau Lusi juga sayang juga sama saya, saya pun kaget mendengarnya, tapi terus terang terasa pagi itu merupakan pagi yang paling indah sepanjang hidup ini. Dan sejak itu Lusi resmi menjadian pacar saya, pulang sekolah selalu sama-sama dan makan di kantin pun selalu sama-sama. Awalnya, kami berdua pacaran seperti biasanya. Karena aku jauh lebih dewasa dari Lusi, jadi aku lebih banyak mengajari dan melindungi Lusi. Sampai-sampai waktu pertama kali aku cium bibirnya, dia masih lugu. Hal ini terjadi pada saat kami pacaran di belakang rumahnya yang mempunyai halaman serta kebun yang lumayan luas. Malam Minggu, kami duduk berdampingan di kursi, kulingkarkan tangan kiriku kepundaknya, dia merebahkan kepalanya ke dadaku. Kuraba dengan lembut pipinya dan berkata, “Lusi…” “Apa honey?” jawabnya perlahan. “Malam ini kamu sangat cantik dan saya kangen sama kamu…” aku berkata lagi. Kepalanya diangkat dari pundakku sambil memandangku dengan matanya yang bulat dan berbinar-binar sayu. Tanpa kusadari, wajah kami saling mendekat dan terasa nafas kami yang agak memburu. Kusentuh pipinya dengan kedua telapak tanganku. Kukecup keningnya dan reaksinya, dia diam dan waktu kulihat matanya tertutup. “Lus, saya sayang kamu…” bisikku di depan bibirnya. “Iya honey?” berbisik jawabnya lagi. “Saya ingin mencium bibirmu.. boleh ya…?” suaraku kubuat selembut mungkin dan seyakin mungkin, karena dia tidak bereaksi seperti anak gadis lainnya kalau kucium keningnya biasanya langsung menyediakan bibir mereka. Lusi mengangguk pelan dan memejamkan matanya, menunggu dengan lembut kukecup bibirnya yang sensual itu, reaksinya sesaat diam. Setelah beberapa saat, tangannya melingkar di leherku dan kedua tanganku melingkar di pinggangnya. Kemudian tanpa melepaskan bibirku di bibirnya, dengan perlahan kuangkat tubuhnya sehingga dia berada di pangkuanku. Bibirnya yang lembut kukulum dengan erat. Saat kupermainkan, lidahku masuk ke dalam mulutnya, dia terkejut dan melepaskan bibirnya sambil berkata pelan. “Kalau ciuman memangnya mulutnya di buka dan lidahnya di julurkan ya honey…???” “Iya dong say, coba kamu buka dan julurkan lidah kamu, sekarang, boleh aku cium kamu lagi?” tanyaku dengan lembut. Lusi hanya mengangguk dan langsung kukecup lagi bibirnya sambil mempermainkan lidahku dan ternyata reaksinya lidahnya ikut main dengan lidahku dan sementara tanganku mulai meraba-raba punggungnya dengan lembut, membuat nafasnya Lusi memburu ditengah-tengah kecupan dan pagutan bibir kami berdua. Sementara itu, tanganku mulai turun ke arah susunya. Dia tidak bereaksi terhadap tanganku yang sudah mengusap susunya yang ternyata, montok dan memang benar-benar besar dan kenyal. Maklum umurnya masih 17 tahun. Nafasnya makin memburu tatkala kecupanku turun ke lehernya dan kugigit-gigit kecil. Rintihan halus mulai keluar juga saat tanganku masuk ke dalam bajunya setelah kancingnya berhasil kulepaskan satu persatu tanpa disadarinya. Tanganku terus meraba susunya yang masih terbungkus BH. Yang kurasakan hanya setengah menutupi susunya yang besar dan montok serta lembut itu, atau memang BH-nya terlalu kecil untuk menampung bukit indahnya Lusi yang montok. Bibirku terus mengecup turun dari leher ke susunya sementara tanganku bergerilya ke punggungnya yang akhirnya berhasil melepaskan kaitan BH-nya. Kurasakan Lusi tersentak pada saat aku berhasil melepaskan BH-nya. “Honey… jangaaan..” rintihnya terengah-engah sambil menunduk melihat ke arah mukaku yang hampir terbenam di antara kedua susunya yang besar dan montok itu. Aku melepaskan kecupanku di pangkal susunya sambil melihat ke arahnya dengan lembut tetapi masih penuh nafsu. Sambil tersenyum lembut, “Kenapa sayang.. kamu takut yaa..?” tanyaku hati-hati. “Iya…” jawabnya dengan suara bergetar akan tetapi kedua tangan masih tetap memeluk leherku dengan kencang. “Jangan takut sayang, saya tahu kamu belum pernah seperti ini, rasakan dan nikmati saja pelan-pelan.” jawabku lagi sambil tanganku tetap membelai susunya yang putih disertai puting kecilnya yang berwarna merah muda. Rupanya dengan gerakan Lusi tersentak itu, BH yang dipakainya terlepas dari susunya yang montok. Kukecup lagi bibirnya dengan lembut. Sejenak kusadari bahwa ini adalah hal yang pertama kali Lusi alami bersama lelaki dewasa seperti aku jadi aku berniat untuk petting dulu sama dia agar tidak kaget dan terlalu memaksa. Aku takut akibatnya dapat merugikanku sendiri untuk menikmati tubuh perempuan berdarah Belanda ini. Demikianlah kejadian demi kejadian yang aku dan Lusi lakukan, yaitu petting atau French kissing sejak kami pacaran yang kuajari dia, baik di rumahnya maupun di rumahku dan dengan pasti kami lakukan pada saat rumah kami berdua dalam keadaan yang memungkinkan. Sampai satu hari Minggu, aku bisa mengajaknya keluar dari pagi jam 08:00 sampai jam 17:00, atas izin orang tuanya. Kami berdua naik motor HarleyDavidsonku berputar-putar keliling Jakarta. Kami makan mie ayam Gajah Mada dan berakhir di rumahku yang kebetulan lagi sepi. Orang tuaku sedang mengunjungi famili di America, kedua kakakku sibuk dengan urusannya masing-masing dan tinggalah pembantuku bik Inem di kamar belakang. Lusi langsung kuajak ke kamarku, terpisah dari ruang utama cukup jauh. Mungkin karena rasa kangen yang meluap-luap, begitu masuk ke kamarku, Lusi memelukku dengan erat dan sepertinya kurasakan dia agak buas. Menciumiku dengan cara menarikku dengan kasar, sehingga kami terjatuh di atas tempat tidurku dengan posisi dia berada di atasku. Padahal, biasanya kalau kami berdua ada kesempatan, ciuman sambil pegang-pegang, seingatku aku selalu ambil peranan dan dengan lembut serta very enjoyable bagiku dan Lusi sendiri yang kulihat dia sangat menikmati permainan petting dariku. Tetapi hari ini aku hampir kewalahan menghadapi ciumannya yang bertubi-tubi dan kurasakan ciuman wanita yang lagi berahi tinggi. Menyadari hal tersebut, aku akhirnya mulai memberikan respon yang tinggi juga. Dengan segera aku membalikkan badanku, sehingga posisiku berada di atasnya serta kubalas kecupannya dengan gairah tetap i juga dengan lembut serta gigitan-gigitan kecil di bibirnya, serta permainan lidah pada saat mengulum bibirnya yang sensual itu. Sementara tanganku bergerak membuka baju casualnya, seperti biasanya Lusi sudah tahu kalau kami mau petting, dia selalu pakai baju casual dengan kancing di depan. Desahan-desahan kecilnya mulai terdengar bersamaan dengan kecupan dan gigitan kecilku yang turun ke arah susunya yang besar dan montok itu sampai aku berhasil menjilati puting susunya yang berwarna merah muda bergantian, kiri dan kanan. Desahannya makin menjadi-jadi sewaktu aku menghisap putingnya yang kecil dan mulai keras disertai gigitan-gigitan kecil yang menggemaskan dan menikmatkan dia. “Aduuuuh… hooneeeyyy…!” erangannya sambil mencengkramkan tangannya di kepalaku. Sementara itu, penisku mulai berontak di balik jeans dan CD-ku. Cepat-cepat aku membuka ruistzleting jeansku agar Mr. P agak leluasa untuk diperbaiki letaknya. Kulepaskan kecupanku dari susunya Lusi yang besar dan aku memandangnya dengan penuh kasih dan lembut, kukecup bibirnya Lusi. “Lusi sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya, kamu mau kan sayang…?” “Honey, aku mau…” jawabnya mesra dan nafasnya mulai memburu. “Sayang… aku akan membuat kamu untuk tidak melupakan hubungan kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yang merasakan kenikmatan dari ku, mau kan?” kataku lagi dengan lembut setengah bebisik, dia mengangguk manja. Sambil berbaring side by side, kukecup bibirnya yang sensual sambil kubuka habis bajunya. Tanganku yang cukup berpengalaman melepas BH-nya yang berwarna pink, hal ini membuat Mr. P ku tegang. Akhirnya terlihat dua bukit susunya yang besar dan halus, “Wwoooww… kok anak SMA klas1 bisa punya seperti ini?” dalam hatiku, putih ,besar, montok dan kenyal dengan putingnya yang kecil berwarna merah muda. Sejenak aku memandanginya sambil perlahan-lahan tanganku menjamah, membelai serta mengusap-usap putting yang menggemaskanku. Lusi tersadar saat aku masih memandang ke arah susunya dan tiba-tiba dia mengeluh sambil menyusupkan kepalanya di dadaku yang juga sudah telanjang. “Honey.. jangan diliatin terus dong.. Lusi kan malu!” katanya perlahan dengan nada manja. Aku tertawa perlahan sambil memeluknya dengan mesra. “Malu sama siapa sayang? Sama aku? Iya? Kan yang ngeliatin juga cuma satu orang kan..?” jawabku tersenyum geli melihat kelakuannya ini. “Tapi Lusi kan tetap aja malu.. soalnya kamu orang laki-laki yang pertama yang lihat Lusi ngga pakai BH.” katanya lagi. Kukecup lagi keningnya, terus turun ke matanya yang indah, hidungnya yang bangir, terus turun ke sudut bibirnya yang sensual, merah merekah disertai desahan-desahan kecilnya terdengar olehku. Di sana aku mempermainkan lidahku serta kugigit lembut. Dia menggelinjang dan dengan tidak sabar dia mengecup bibirku dengan buas, sementara tangannya mulai mengusap kepalaku, aku pun tidak tinggal diam. Dengan segera tanganku turun ke susunya yang menjadi kegemaranku bermain, kuraba dan kuputar-putar putingnya yang mungil. Dia mengerang nikmat. Tanganku terus turun. Kusibak rok mini nya, terus ke arah belakang tempat resletingnya, langsung kubuka perlahan-lahan. Dia diam saja dan aku merasakan bahwa dia sudah pasrah dengan apa yang akan kulakukan. Kutarik roknya ke bawah dan dia membantu untuk melepaskannya. “Honey… peluk Lusi dong…” tiba-tiba katanya dengan sendu membuyarkan lamunanku. Kembali aku memeluknya dengan lembut dan aku merasa penisku melakukan pemberontakan yang gila. Sambil mencium bibirnya, lehernya terus turun ke susunya serta putingnya yang menggairahkan, aku melepaskan jeansku. Kukecup kedua puting merah muda itu berulang-ulang dengan lembut sampai basah oleh air liurku. Kuturunkan kecupanku ke arah pusarnya, dia bergerak sambil terus menjambak rambutku sambil mendesah disertai erangan-erangan nikmatnya yang halus. Sampai akhirnya bibirku berada di atas vaginanya yang sudah basah tertutup oleh CDnya. “Sayang.. CD kamu saya buka ya?“ kataku sambil mulai membuka CD-nya lepas dari tubuhnya. Lusi hanya menganggukkan kepalanya dengan rintihan kenikmatan yang kuyakin belum pernah dirasakannya seumur hidup. Dihadapanku terlihat anak gadis, perawan, telanjang dengan lubang kewanitaan ditumbuhi bulu-bulu halus yang teratur rapi nan cantik. Vagina anak perawan yang belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun. Kukecup bibir atas benda indah itu yang dengan serta merta mengeluarkan aroma yang khas. Aku merasakan gerak gelinjang Lusi serta keluhan panjang. “Ooohhh… Honneeeyyy…!” Kuyakin Lusi sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yang belum pernah dia alami, karena umurnya baru 17 tahun. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan nafsuku serta pemberontakan Mr. P di balik CD-ku, aku ingin memberikan kepuasan kepada Lusi semaksimal mungkin, sehingga dia akan menyerah dengan apa yang akan kulakukan demi kepuasan bersama. Kujilat belahan vaginanya sambil perlahan-lahan kubuka pahanya yang sebelumnya Lusi jepitkan untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat aku pertama kali mengecup pucuknya. Pahanya yang putih mulus itu terbuka sedikit demi sedikit sambil lidahku bermain dengan lembut. Klitorisnya yang mungil tampak merekah merah muda. Aku tidak tahan. Kukecup dan kugigit-gigit kecil. Hal ini membuat Lusi menggoyangkan pantatnya yang padat, kenyal serta mulu s itu dengan gila. Kedua tangannya mencekal rambutku dan menekankan ke arah vaginanya sambil berteriak kecil menahan. Basah sudah bibirku, hidungku, lidahku dengan cairan putih bening yang keluar terasa agak asin namun harum dengan aroma yang khas dari vaginanya. Cengkraman serta jepitan di kepalaku mengendur, dia telah mencapai orgasme. Kujilat dan kutelan habis cairan itu di sekitar vagina indahnya dengan nafsu yang memuncak “Honey.. sini dong, peluk Lusi…” rintihnya sendu. Aku tersadar dengan kejadian yang baru saja kulakukan. Gila.. aku baru saja menelan cairan orgasme anak perawan. Aku bangun dan memeluk Lusi dengan lembut dan mesra, dia kaget melihat mulut dan hidungku masih tercecer cairan putih bening. Tiba-tiba, “Cup.. cup.. cup..” dikecupnya bibirku, hidungku, daguku sambil menjilati sisa-sisa cairan putih bening yang masih ada di wajahku dengan liar. Dia terus memandangku dengan matanya yang indah berbinar itu. Posisi kami rebah berhadapan berdampingan, dia berada di sebelah kiriku dan aku berada di sebaliknya. Tanganku menyentuh dan mengusap susunya yang putih, montok dihiasi putting kecil merah muda. “Honey…” desahnya lembut. “Apa sayang..?” jawabku berbisik. “Kamu sayang sama Lusikan…?” katanya lagi sambil memandang serta membelai pipiku, menyentuh bibirku dengan jarinya. “Iyaaa… ada apa sayang… kok nanyanya begitu…?” balasku lembut. Jariku tetap nakal bermain-main di puting susunya yang menggairahkan. “Honey… soalnya Lusi belum pernah begini..” katanya lagi sambil melirik ke arah mataku. Usapan tangannya tidak berhenti di antara pipi dan bibirku. Aku balas memandangnya sambil tersenyum. ” Jangan diliatin begitu dong… Lusi kan maluuuu…” katanya sambil merajuk menyusupkan wajahnya di leherku, kakinya yang indah dibelitkan ke pinggangku seperti memeluk guling. Tiba-tiba dia tersentak saat perutnya menyentuh perutku yang mau tidak mau, vaginanya menyentuh sesuatu yang tegang di balik CD-ku yang sudah basah. Secara refleks Lusi mencoba meregangkan tubuhnya, tetapi dengan sigap kutahan dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya sambil berbisik, “Jangan dilepas sayang.. biarkan nempel.. aku ingin kamu merasakan milik laki-laki yang menyayangimu, menyentuh kulitmu.” kataku dengan nada pasti. Dia terhenyak dan tegang sesaat, dengan sabar dan lembut aku cium kening dan bibirnya dan aku berkata sambil melepaskan CD-ku perlahan-lahan, “Kamu belum pernah melihat yang namanya penis laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan? Kamu mau lihat?” tanyaku sambil menatap pasti ke arah matanya yang indah itu. Sepertinya dia bingung sesaat dan aku tetap memandangnya dengan tatapan mata yang menusuk serta meyakinkan. Akhirnya dengan sikap pasrah dia mengangguk pelan. Kami melepas pelukan dan dengan perlahan-lahan, Lusi menundukkan kepalanya melihat ke arah pangkal pahaku. “Ooohhh…” teriaknya kecil dan kaget serta merta memeluk leherku menyembunyikan mukanya. Aku rasanya ingin tertawa melihat sikapnya yang lugu itu, maklum saja anak perawan melihat pertama kali Mr. P laki-laki dewasa lagi tegang. “Kenapa sayang..? Lihat indah kan?” kataku menggoda. “Ngga mauuu.. Lusi maluuuuu…!” jawabnya tanpa melepaskan wajahnya di leherku dengan nafas yang agak memburu dan tangannya memeluk leherku. Dengan sigap aku peluk dia di pinggangnya yang berakibat Mr. P ku yang masih tegang itu menempel di antara vaginanya yang lembut. Dia kaget dan berusaha melepaskan tetapi kutahan pinggangnya, nafasnya makin terengah-engah. Terasa ada cairan hangat mengalir menyentuh Mr. P ku perlahan-lahan dan ketegangan tubuh dia mulai agak mengendur. “Honey.. Lusi.. aaahhhh geeellliii…” desahnya terengah-engah. Pelukanku di pinggangnya kukendurkan sambil menatap matanya yang agak redup sambil berbisik, “Sayang.. ini bagian dari perasaan cinta dan kasih sayang, say.. ayo lihat..” Aku mengambil tangan kirinya dan kuarahkan ke Mr. P ku yang tegang, dia mengikuti gerakan tanganku sambil pelan-pelan menundukkan kepalanya ke arah Mr. P ku, kuusapkan tangannya ke Mr. P ku sambil menggenggam dengan lembut. Aku rasakan nafasnya memburu dan aku mulai merasakan sentuhan lembut itu dengan nikmat. “Gile.. coy..! Mr. P ku dipegang oleh anak perawan yang cantikkk..!” pekikku dalam hati. Kuajari Lusi sambil menggengam si Mr. P untuk mengurut dengan lembut, tanganku kemudian melepaskan tangannya yang halus, terus mengurut Mr. P ku secara berirama. Sementara tanganku sendiri menyentuh vaginanya yang lembut dan mulai mengelus bibir hangat tersebut dengan penuh rasa cinta. Beberapa saat kemudian dia berteriak kecil, “Hooonnneeeyyy.. ooohhh… ssshhhttt…” dia bergerak dan tangannya yang masih memegang Mr. P ku disentuhkan ke vaginanya. Tiba-tiba dia memelukku sambil melingkarkan pahanya yang putih dan mulus itu serta menekankan vaginanya dengan Mr. P ku. Tanganku terpaksa kulepas dari bibir vagina cantik itu, tangannya memeluk badanku, kemudian bibirnya dengan buas mengecup bibirku sambil mengerang karena nikmat. Terasa basah Mr. P ku yang masih menempel di bibir hangatnya Lusi, orgasmenya yang kedua. Wooow.. seprei tempat tidurku sudah tidak karuan lagi bentuknya serta basah pada bagian di mana kemaluan kami berdua saling menempel. Aku mulai tidak tahan dengan keadaan seperti itu, Mr. P ku makin keras dan tegak sementara agak terjepit di antara bibir vagina lembut miliknya. Yang agak mengherankan adalah, aku masih bisa menahan dir i untuk tidak mulai melakukan penetrasi karena sadar bahwa anak ini masih perawan, meskipun keadaannya tinggal tancap, beres kan? Pikiran sehat muncul sejenak. “Kalau elu perawanin, gawat nich ceritanya coy… !?” dalam hatiku bergejolak. Aku yakin bahwa aku harus mengakhiri kenikmatan ini dengan kondisi baik. Aku dan Lusi harus benar-benar puas. Kubalas kecupan-kecupan ganasnya Lusi di bibirnya, lehernya, susunya dan berhenti serta bermain-main agak lama di kedua susunya yang menggairakan serta putingnya yang kecil merah muda itu. Tanganku bergerilya ke arah vaginanya yang lembut berwarna merah muda pada kedua labia mayora-nya. Pahanya yang putih mulus masih melingkar di pinggangku, sehingga jari tengahku bebas berkeliaran mengusap-usap vaginanya yang sudah amat basah dengan cairan putih bening yang keluar terakhir. Desahan, erangan serta teriakan-teriakan kecil terus meluncur dari bibir yang sensual di depan wajahku. Sekali-kali dia mengecup dan juga menggigit bibirku dengan ganas selama jariku mempermainkan labia mayora serta clitorisnya yang agak keras. Kugeser tubuh putih mulus itu perlahan-lahan, sehingga Lusi telentang dan posisiku berada di atasnya. “Lusi sayang, saya ingin kamu merasakan kenikmatan orang bercinta.. kamu mau kan..?” aku berkata sambil menatap wajahnya yang terlihat pasrah dan bertambah cantik dengan sebagian keringat menitik di dahinya. “Honey… semuanya saya berikan untuk kamu?” jawabnya lembut setengah tersenyum juga dengan nafas mulai memburu. “Sayang kamu sebentar lagi akan merasakan gimana yang namanya Make-Love?” kataku dengan lembut dan pasti sambil mengecup bibirnya yang menggemaskan. Dia mengangguk pelan tetapi kuyakin pasti dia ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah dirasakannya. Dengan sabar dan lembut tanpa melepaskan pandangan mataku ke arah matanya yang mulai setengah terpejam, kurenggangkan pahanya, kuarahkan Mr. P ku yang sudah tegang dari tadi ke atas vaginanya yang kuraba dengan jari tengahku. Sudah merekah terbuka, lembut, perlahan kuusap-usapkan ujung Mr. P ku ke vagina Lusi sambil kukecup bibirnya, susunya, putingnya. Kujilat mesra tangan kirinya dengan segera memegang dia meremas kepalaku dan tangan kanannya membelai punggungku dengan mesra seolah-olah mulai merasakan kenikmatan lidahku bermain pada putting susunya yang kecil mungil kemerah-merahan serta usapan-usapan Mr. P ku pada vaginanya. Perlahan-lahan kudorong Mr. P ku memasuki kira-kira setengahnya ke liang vaginanya. “Hooonnneeeyyy… pelan-pelan… peerrriiiihhh…” jerit kecilnya. Aku agak kaget dan langsung berhenti bergerak karena meskipun aku sudah tidak tahan ingin penetrasi penuh tetapi aku masih sadar bahwa ini adalah ML dengan Lusi yang anak perawan 17 tahun berdarah Belanda yang amat kusayangi, jadi aku harus sabar dan penuh rasa kasih serta cinta yang lembut. “Maaf sayang.. sedikit lagi.. saya pelan-pelan.. atau dicabut aja..?” kataku tanpa sadar. “Jangan… pelan-pelan aja…” jawabnya lirih. Aku merasa tidak tahan, antara mau terus dan takut dia kesakitan. “Gila lu Ton, ini anak masih perawan!” kata hatiku kembali berkata. Tetapi karena sudah tanggung, Mr. P ku sudah masuk setengah kuteruskan amat perlahan. Penetrasi yang berakhir dengan keluhan Lusi yang terdengar lirih, “Honeeeyyy… aaaahhhh saaakkkkiiittt..!” Nafasnya memburu, terasa liang vaginanya yang sempit itu basah melumasi Mr. P ku yang masuk dan menyentuh sesuatu batas, selaput dara. Aku bingung sejenak untuk berusaha menguasai diriku. “Tanggung Ton.. terusin aja…” bisikan hatiku lagi. Sambil mengatur nafas, aku diam beberapa saat sambil memandang gadis perawanku yang cantik ini. “Sayang… kamu apa udah siap…?” aku berbisik di depan bibirnya yang sensual, reaksinya membuat aku tertegun. Dia angkat pantatnya sehingga Mr. P ku masuk penuh ke dalam vagina indah itu, tiba-tiba kedua kakinya melingkar di pinggangku dan sekaligus menjepitnya. “Luar biasa ini gadisku yang perawan!” pujiku dalam hati. Aku langsung goyangkan pantatku maju mundur perlahan-lahan tetapi pasti, makin lama makin cepat, kukecup sudut bibirnya, ujung dagunya. Nafasnya dan nafasku tidak karuan lagi iramanya. “Honey… oooohhh… teeerrruss… ssshhhhhttt…” erangannya makin keras. Gerakan pantatnya yang bulat makin menjadi-jadi. Kupeluk Lusi dengan erat karena aku mulai merasakan denyut-denyut gila Mr. P ku di bagian kepalanya. Gerakan otot vagina Lusi yang menghisap Mr. P ku setiap gerakan mundur membuat aku benar-benar tidak tahan. Rasanya belum lama penetrasiku, tiba-tiba Lusi menjerit lirih disertai pagutannya di bahuku sebelah kanan serta jepitan kedua pahanya di pinggangku. “Haooonnneyyyy… aaakkkhhh…” Aku tidak bisa menahan lagi kenikmatan badaniah ini, di mana kurasakan seluruh Mr. P ku terbenam di liang vaginanya. Ini ML yang paling gila dan paling edan yang pernah kulakukan sampai saat itu. Aku mengalami orgasme hebat bersama Lusi, gadis kecilku, anak SMA dan yang telah kuperawani. Spermaku keluar menyemprot di dalam vagina lembutnya bersamaan dengan pahanya yang mulus menjepit pinggangku dengan kuat tanda dia mengalami hal yang bersamaan denganku. Kami berpagutan, berkecup, berpelukan, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh-tubuh telanjang kami. Beberapa saat, kami berpelukan seolah-olah tidak akan melepaskan satu sama lain. Kuputar tubuhku sehingga posisi kami berdua berhadapan berdampingan tanpa melepaskan pelukan kami masing-masing. Peluh kami berdua mengalir membasahi punggung, leher, dada, perut dan hampir seluruh tubuh. “Sayang.. buka dong matanya..” kataku lembut sambil mengelus pipinya, menyentuh bibirnya dengan ibu jariku sewaktu melihat dia dengan matanya yang masih menutup. Menikmati atau berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi, mungkinkah? Dia membuka mata coklat tua yang indah dan berkaca-kaca. Perlahan-lahan dia memandang ke arah mataku, dua butir air mata mengalir dari mata yang indah itu. “Honey…” suaranya terdengar lembut sambil jarinya mengusap pipi dan bibirku. “Kamu sayang sama Lusi kan..?” katanya lagi dengan agak tersedan manja. “Iyaa sayang.. saya sayang kamu.” jawabku dengan tetap mengelus pipi dan bibirnya yang sensual indah itu. Kuusap tetesan air matanya dan kami saling mengelus muka masing-masing dengan penuh kasih dan cinta. ” Lusi ngga nyesel lakukan sama kamu.. karena Lusi sayang dan cinta sama kamu honey…” katanya lagi dengan lembut. “Saya juga sayang sama Lusi.. kamu ngga nyesel kan dengan apa yang kita lakukan tadi..?” tanyaku lagi. Dia mengangguk pelan tetapi pasti dan tersenyum manis. Kupeluk dia dan kukecup keningnya, bibirnya dan kugigit kecil sudut bibirnya, dia mencengkram rambutku sambil membalas kecupanku di bibirnya. Perlahan-lahan kami saling melepaskan diri dan secara refleks kami berdua melirik ke arah pangkal paha kami masing-masing. Kami termenung sejenak melihat seprei tempat tidurku basah dan ada bercak merah. “Honey.. Lusi takut.. ada darah di…” dia berkata dengan ekspresi wajah khawatir. Segera kupegang kedua belah pipinya dan melekatkan pandanganku ke matanya. “Jangan takut sayang.. itu tandanya kamu masih suci, saya yang pertama melakukan dan akan bertanggung jawab atas perbuatanku, jangan khawatir sayang.” jawabku dengan tenang dan pasti dan langsung kembali kupeluk dia sambil mengecup keningnya. Dia membalas pelukanku. Kami berpelukan seolah-olah tidak akan saling melepaskan. Aku bangun dan meraih bajuku dari lantai segera kubersihkan tubuh Lusi, di pangkal pahanya, vaginanya, sambil memandang tersenyum puas kepadanya. Dia pun bangun dan ikut membereskan bajunya yang berserakan di atas lantai. Kami berdiri berhadapan, saling berpandangan mesra dengan tubuh telanjang. Kupeluk Lusi, dia membalas pelukanku dan kami berpagut lembut mesra. Kugandeng tangannya, kami berjalan beberapa langkah mendekati lemari pakaianku, kuambil CD yang bersih. Tanpa sadar Lusi terlihat termenung memadangiku. ” Lusi sayang.. udah sore sayang..” aku berkata mengingatkannya juga menyadarkan diriku sendiri sambil menyodorkan CD-ku yang bersih. Dia tersentak dan terlihat pandangan yang lucu waktu matanya melihat CD-ku yang kusodorkan kepadanya. “Buat siapa..?” tanyanya heran. “Ya buat kamu.. masa kamu mau pakai CD kamu yang udah basah dan lengket?” aku jawab sambil menahan tawa geli, dasar anak kecil. Dia tersadar dan merajuk manja serta merta memelukku, menyembunyikan wajahnya di dadaku. “Aaahhh.. honey.. Lusi jadi malu kan..?” sergahnya manja. Kutuntun Lusi duduk di tempat tidurku, kukenakan CD cowok putihku. Lucu juga melihat cewek pakai CD cowok. Lusi memakai baju dan rok mininya kembali. Kemudian aku sendiri berpakaian. “Sayang, saya mau tahu, kok kamu mau melakukan ini sama saya? ngga takut hamil..?” tanyaku serius sambil memandang matanya yang indah itu. “Lusi mau karena Lusi sayang kamu.. honey kan udah janji ngga akan meninggalkan Lusi.. iyaa kan?” jawabnya sambil memeluk leherku. “Sekarang udah sore. Mau pulang nggak?” tanyaku sambil memeluk pinggangnya. Dia memandangku sambil tersenyum sendu melingkarkan tangannya di leherku sambil mengangguk pelan. CD-nya yang berwarna pink masih tergeletak basah di atas tempat tidurku. Kuambil sambil kuciumi, dia berusaha merebutnya dari tanganku tetapi kutahan tangannya. “Ini milik saya untuk selama-lamanya..” kataku tegas sambil menatap matanya yang cantik berbinar-binar itu. “Jangan… itu kotor dan bau kan..?” sergahnya. “Biaaariiin… kotoran yang cantik dan bau yang haruuummm.. kenang-kenangan dari gadis kecilku yang cantik.” jawabku sambil mengecup bibirnya yang sensual. Cepat-cepat aku melepaskan diri dan melemparkan CD pink itu ke dalam lemari pakaianku, kututup, kukunci. Dia terdiam dan tersenyum cerah. Kuantarkan Lusi pulang kerumahnya, jam menunjukan jam 18:00. Kami berkasih mesra hampir 5 jam di rumahku, edan, gila dan sebagainya. Sore itu aku merasakan bahagia sekali… Waktu terus berjalan dengan indahnya… sampai ketika waktu liburan kenaikan kelas, saya disuruh jaga rumah saudara, soalnya saudara saya itu pada pergi ke luar negeri jalan jalan ke Africa mau ketemu macan kali ya… hahahahaha. Malam minggu nya karena saya gak bisa kemana-mana, akhirnya Lusi yang datang nga pel in saya di rumah saudara saya itu. Kita ngobrol kesana-kemari dan saya bilang kalau saya kangen dia. Tak tahunya pancingan saya berhasil juga, dia berkata sambil menyenderkan kepalanya di pundak saya “Saya juga kangen…” mendengar itu saya langsung mendekati dia dan berbisik padanya “Kamu malam ini cantik say…?” sebelum menyelesaikan ucapan saya, saya sudah langsung di sambut dengan ciuman dibibir yang hangat. Seketika itu saya kaget, tapi dengan cekatan tangan saya merangkul dia dan menyambut ciumannya. Satu kata pun tak terucap selama 5 menit pertama dari mulut kita masing-masing. Lalu sambil meneruskan ciuman tadi, tangan kiri saya mengambil bantal dan menidurkan dia sambil diteruskan membuka kaosnya. Setelah saya membuka kaosnya, tubuh Lusi bener-bener mulus tak ada satupun cacat ditubuhnya. Lama saya memandangi tubuh mulus itu, tapi Lusi sudah tak sabar, dia langsung menarik kepala saya ke susunya dan menyuruh untuk ngisep puting susunya itu. Tanpa basa-basi saya pun ngisep puting dan saya jilati sambil gigit kecil di seluruh susunya sampai dia mengerang keasyikan “Sayang… ooohhh… terusin aaahhhh… ssshhttt… enak say”. Sambil mengisep-ngisep susunya Lusi, tangan kanan saya membuka sabuk dan menurunkan resleting celananya, terus tangan saya masuk ke CD nya dengan pelan-pelan dan menggosok-gosok dengan pelan klitrosnya yang sudah basah. “Sayang jangan dulu, sabar ya say…” tangan dia menghentikan saya untuk meneruskan kegiatan tadi, dan dia mendorong tubuh saya sampai keadaan saya berbalik, dia diatas dan saya dibawah. Dia langsung membuka celana saya dan mencari-cari Mr. P yang sudah sedari tadi tegang. “Sayang saya kangen sama ini kamu say..,” dia langsung menjilati kepala Mr. P dan mengisep dengan lembut “Sayang yang dalam say…” “Susah say mulut saya cuma sampai setengah doang” dia berusaha muasin saya dengan menyedot dari pelan sampe keras “Aaaahhh… terus say… emmmmhhhhh” dia memaksa melumat Mr. P ku yang gede ke mulutnya, sampai-sampai kepala dan batang Mr. P ku kena giginya, tapi itu semua membuat saya mengerang keasyikan. “Udah dong Lus… entar keburu keluar, ga asyik kan” setelah itu saya langsung menidurkan Lusi dan membuka celana dan cdnya yang sedari tadi masih tergantung di sekitar paha. Saya langsung menuntun Mr. P gede ini masuk ke bibir mulut goa Lusi. Blesss… tanpa menunda lagi Mr. P saya sudah masuk ke vagina Lusi yang hangat dan masih menjepit Mr. P ku, meski sudah ga perawan lagi tapi memeknya masih sempit dan enak banget di Mr. P ku. “Aaaahhh… Saaayyy… ooohhh enak say… saya merasa seperti waktu kamu perawanin dulu.” “Aaahhh… sssttthhh… ooohhh… ” saya terus mengenjot pantat ke vaginanya “Terusin say… yang cepat… aaahhhh…, cepet lagi say… saya maaauuu… keluuuaaarrr… aaahhh…” Saya mempercepat gerakannya dan Lusipun mengimbangi irama saya. Dan saya pun mau keluar “Aaahhh… ssshhhtt… saya keluar sayyy…” “Sebentar say… bentar lagi saya juga mo keluar nih” “Aaahh… terus Lus… ooohhh…” Setelah itu kami saling memeluk, dan selang beberapa menit, saya dan Lusi kembali ML. Kami melakukan itu dari jam 5 sore sampe 10 malem sampai 5 ronde. Enak banget rasanya memek Lusi itu. Setelah selesai saya mengantar dia pulang ke kos anya, dan setelah itu kami selalu meluangkan waktu untuk bercinta lagi. Baik itu di rumahnya kalau keadaan nya memungkin kan atau di kos an saya. Beberapa hari setelah itu saya bertemu dengan Ratna, dengan suaranya yang sangat pelan dan malu malu, dia mengatakan ingin ML sama saya. Saya waktu itu merasa kaget dan rada bingung juga, akhirnya dia cerita kalau dia juga mau merasakan enaknya ML seperti waktu saya melakukan itu dengan Lusi dan saya diminta untuk mengajarinya. Dia saya ajak ke kos an saya. Dan disana saya ajak untuk nonton VCD porno di komputer saya. Mulanya dia malu-malu untuk melihat adegan hot di komputer saya itu. Lalu saya tiup dengan pelan dibalik telinganya, reflek tangan dia memegang erat tangan saya sambil menggigit bibir “Aaaahhhh… ttteeerrruuusss Tonn… ajarin saya ya…” saya langsung menyambut bibir Ratna yang sedari tadi mengigit-gigit bibirnya sendiri. Sambil melumat bibir sexy Ratna, kedua tangan saya meremes-remes susunya yang besar itu, Lalu saya menuntunnya duduk di springbed sambil membuka kancingnya satu persatu. Setelah bosen ngelumat bibirnya yang sexy, saya turun ke susunya yang sedari tadi sudah terbuka menunggu jamahan bibir saya. “Gelliiii Ton… terusin, ahhhhh… sssshhhhttt…. aaaahhhhh…,” waktu itu saya menjilat-jilat sekitar susunya terus ke putingnya dan diakhiri dengan sedotan panjang dan gigitan. “Ton kamu memang pinter buat aku terangsang, aaahhhhh… terusin… saya suka….” sambil tangan saya menyerosotkan celana jeansnya “Ton sekarang ngapain…???” sambil memelas mesra “Kita coba ikuti yang tadi di komputer” langsung aja kita ngelakuin gaya 69. Buset dah Mrs.V nya wangi banget dan bersih rapi dan sudah dipenuhi cairan kentel yang baunya khas. Saya jilatin Mrs.V Ratna sambil sekali-kali menyedotnya. Dan Ratna pun dengan cekatan mengocok Mr. P saya. “Sssshhhhhh.. Naaa… enak… terusin dong… yang cepat say…” “Sama juga Ton… teeerrruuuss enak banget, dah ga tahan rasanya mo kencing aaaahhhh… ssshhhh… ton aku mau keluar nih” crot,..crot,..crot,.. Mrs.V nya ngeluarin cairan kentel yang banyak dan tumpah di sekitar bibir saya. Rupanya Ratna termasuk type perempuan yang sangat panas dan liar dalam bermain cinta. Itulah justru yang kelak membuatku demikian tergila-gila kepadanya. Setiap kali aku berniat berhenti, bayangan erotisme Ratna membuatku justru ingin mengulang-ulangnya kembali. Sambil itu saya langsung menyedotnya dengan cepat dan sretttttt “Ssshhhhttt Tooonnn… enak banget….. serasa melayang” setelah Ratna organisme saya langsung ngubah gaya ke gaya tradisional, saya diatas dan dia dibawah. “Ratna sudan siap…? ” “Terusin aja Ton aku sudah ga tahan.” dengan bantuan tangan Ratna saya menemukan juga lubang yang masih perawan itu. Kepala Mr.P saya udah saya deketin ke bibir Mrs.V Ratna, dan perlahan-lahan saya coba masukin. Tapi ah… gagal, coba lagi …. gagal juga “Kenapa Ton… cepet dong, dah ga kuat nih, aku pengen ngerasain Mr. P mu yang gede itu” “Sabar ya Na… gua lagi coba nih” saya buka sedikit bibir Mrs. V Ratna dengan kedua jari kanan saya. Dan akhirnya blessssss… “Aaahhhh… sakit Toonnn…” “Sebentar juga enak kok” perlahan-lahan Mr. P saya maju mundurkan hingga cairan kental dari Mrs.V Ratna memperlicin gerakan maju mundurnya Mr. P saya. “Ssshhhhhttt… enak perih perih sakit… aaaahhh… ooohhh terusin Ton… percepet… ssshhhttt…”. Setelah lancar Ratna pun mengimbangi dengan pinggulnya yang maju mundur keatas. Enak banget waktu itu, Ratna Mrs.V kamu memang masih perawan. “Aaaahhhh… aaaahhhhh… sssshhhttt…. ooooohhhh… Tooooonnnn” saya terus saja menggenjot Mrs.V nya Ratna dengan cepet dan sebelum Ratna organisme saya mencabut Mr. P saya “Ton! kok di cabut….” tapi saya tak menghiraukan perkataan Ratna, saya langsung mengangkat kaki kiri Ratna ke atas dan saya langsung menusuk lagi dari pinggir ke Mrs.V nya. “Oooohhhhh… Tooonnn kamu memang hebat, ini lebih asyik, Mrs. V ku rasanya penuh aaaahhh… ooohhhh… ssshhh…” saya menggenjot dengan keras, sampai terdengar bunyi plok plok plok…. “Naaa… ssaayyaaa…mmmaaauuu… keeeluuuaaarrr…. Dimana ngeluarinnya Na….?” “Didalem aja Ton… ga pa-apa, aku pengen ngerasain semuanya ” “Kamu nanti hamil…” “Gak apa-apa…” “Pinggul mu majuin ya” “Aaaaah… ssshhhttt… Ton aku juga mau keluar nih, bareng ya aaahhhh….” “Aaaahhhh…. ssshhhhttt…. oooohhhh….” kita keluar sama-sama “Ton hangat benar air mani kamu di dalam memek ku.” “Memek ku rasanya gatal gatal enak… aku jadi pengen lagi Ton ” tapi saat itu Mr. P ku dah mulai lemes, tapi karena Ratna meminta lagi. Saya bilang untuk mengocok dan mengulum Mr. P oleh mulutnya. Akhirnya Mr. P tegang lagi setelah menerima perlakuan yang enak dari Ratna. “Ton kontolmu dah tegang lagi, masukin lagi yaaa” saya langsung nyuruh dia nungging dan saya dimasukin Mr. P lewat belakang. “Ooohhhh… Ton… enak banget… kamu emang pinter… aaahhhh…. aku ga sia-sia ngorbanin keperawananku sama kamu, kamu memang hebat” saya langsung aja maju mundurkan dengan cepat dari belakang “Sssshhhhh…. aaahhh… ” plak….plak…plak pantat Ratna sama selangkangan aku ngeluarin bunyi. Berulang kali sambil tanganku menampar pantat Ratna, dan Ratna pun keasyikan tak merasakan sakit malah keenakan dengan saya menampar pantatnya itu “Aaaahhh… ssshhhhttt… terusin Ton… oooohhhhhh enakkk ” kami melakukannya dengan berbagai gaya dan berulang-ulang, sampe-sampe Ratna nginep di kos an saya, dan paginya juga kita ML lagi sampe siang. Bener-bener membuat saya kecapean tapi mengasyikan. Kemudian hari-hari selanjutnya Ratna selalu meminta lagi perlakuan sex dari ku, kadang-kadang kita bolos dan langsung kekhostanku untuk ML lagi. Saat itu hari senin, aku di kos sendirian. Teman-temanku menjalani aktivitas masing-masing. Siang itu saya sedang asyik melamun di kamar mandi sambil membayangkan indahnya tubuh Lusi. Seiring dengan khayalanku yang semakin indah aku mulai mengocok-ngocok Mr. P ku dengan perlahan, busa sabun yang melumuri kontolku terasa nikmat sekali, gerakanku semakin cepat dan mencoba mencapai puncak kenikmatan secepatnya, Tapi karena hari ini aku sedang gak berapa mood, aku agak susah keluar, aku lihat kepala Mr. P ku sampai memerah… tapi tiba-tiba saja.. “Brakkk” pintu terbuka dan menyembullah wajah Poopy, aku kaget setengah mati, begitu pula dia sampai berteriak, Aku segera mencari celanaku, tapi sialnya karena pintu terbuka jelas aku nggak bisa mengambil celanaku yang berada dibalik pintu kamar mandi. “Poppy… kamu sama siapa…??? tanpa menghiraukan Mr. P ku yang masih ereksi, “Ooowww….” jerit nya, tapi aneh nya dia masih berdiri dan kulihat pandangan matanya tertuju pada Mr. P ku yang masih mengacung menunjuk langit-langit. dan tanpa disangka-sangka dia langsung masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, “Ehh, kamu mau ngapain?” aku masih kebingungan atas sikapnya. “Kamu tenang aja Ton” kata Poppy. Dia langsung menanggalkan seluruh pakaiannya dan telanjang bulat didepanku, aku pun mulai menyadari keinginannya. Aku yang masih mengenakan baju langsung dilepaskannya dan Poppy langsung dengan liarnya menciumi seluruh tubuhku, tangannya langsung saja menggenggam Mr. P ku dan menarik-nariknya dengan keras. Sungguh nikmatnya luar biasa. “Ton, kontol kamu gede, bikin saya puas yah?” Akupun tak bisa tinggal diam, seluruh ilmuku selama ini segera kupraktekan. Aku mulai melumat bibir nya sambil tanganku bermain di kedua susunya yang membusung padat. Putingnya yang kecil dan kemerahan aku pilin-pilin, kadang aku usap perlahan, bibir dan lidahku terus menjalar menelusuri leher dan melumat kedua susunya yang montok. Poppy hanya mengerang pelan, seluruh bagian tubuh Poppy tak ada yang luput dari jilatanku, mulai dari jari tangan, leher, buah dada, perut, pinggul, pantat, Mrs.V nya yang lebat sampai paha dan jari kakinya aku jilat dan cium. Dan saat lidahku bermain di Mrs.V nya dia mengangkat sebelah kakinya ke bathub dengan begitu aku semakin leluasa menyedot klitoris nya dan memasukkan lidahku kedalam Mrs.V nya, Poppy meremas remas rambutku semakin kuat, sambil terus menjilat kedua tanganku meremas dan memilin kedua p uting susunya. “Aaahhh… Tonnn…” rambutku terasa mau tertarik dari akarnya saat Poppy melepas orgasmenya yang pertama. Aku tak begitu perduli, aku terus menciumi seluruh bagian tubuhnya dan saat aku menciumi punggungnya, Mr. P ku terasa nikmat terganjal diantara belahan pantatnya yang besar, tapi mungkin Poppy sudah naik lagi nafsunya, dibimbingnya senjataku dari belakang, “Tekan Tonnn… aaahhhh…” aku langsung memajukan pingggulku dan Mr. P ku terasa memasuki lorong hangat yang sempit “Aaahhh…, enak Ton, terus yang dalam” Poppy semakin meracau sementara aku sendiripun merasakan nikmat yang luar biasa, jepitan Mrs.V nya terasa sekali meremas batang Mr. P ku, Perlahan aku gerakkan pinggulku maju mundur, sementara tanganku tak tinggal diam meremas dan memilin puting susunya. Kian lama gerakanku semakin cepat, seluruh urat syarafku terasa agak kaku dan aliran darahku semakin cepat. Aku sengaja menahan hasratku, supaya aku gak cepet keluar sampai Poppy orgasme 8 kali dan mengalami berbagai macam gaya barulah aku mulai merasakan spermaku sudah terasa di ujung Mr. P ku, “Pop.. saya mau keluar” “Sebentar, Ton.. tahan” Dia lalu menggerakan pinggulnya kedepan sehingga Mr. P ku tercopot, dia langsung mengocok Mr. P ku dengan tangannya yang halus, sementara bibir dan lidahnya menggelitik ujung dadaku dengan rakusnya. Nafasku bagai terhenti saat dengan kuatnya dia melumat ujung dadaku dan mempercepat kocokan tangannya di Mr. P ku, akhirnya seluruh tubuhku bagai merinding dan bergetar saat spermaku terpancar dengan beberapa kali denyutan-denyutan kenikmatan di seluruh Mr. P ku. . Kulihat Poppy tersenyum puas, “Ton, kamu termasuk hebat dalam urusan ini, besok-besok lagi, yah?” aku hanya mengangguk, dan tanpa banyak kata-kata lagi Poppy langsung mengenakan pakaiannya kembali dan meninggalkanku sendirian di kamar mandi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s