berlibur kedukuhseti

Standar

Mungkin belum banyak yang tahu dimana Dukuhseti berada. Letaknya di utara Kota Pati, Jateng. Wilayah ini juga masih masuk Kabupaten Pati. Jalan ke Utara Pati menyusuri pinggir Gunung Muria, akhirnya bisa mencapai Kota Jepara. Aku bukan warga Dukuhseti, tetapi sudah lama memendam keinginan untuk sesekali menikmati liburan di kampung itu. Memang tidak ada obyek wisata yang menarik. Dia hanya kampung biasa, jika kita melintas di wilayah itu, juga jarang tertarik untuk berhenti, kecuali, kehabisan rokok, atau haus. Pokoknya sepintas lalu kampung ini tidak punya daya tarik istimewa. Namun aku pernah baca liputan sebuah majalah wanita, lupa namanya, mengungkapkan warga Dukuhseti sangat terbuka dalam soal sex. Diceritakan bahwa bukan hanya anak gadis yang bisa di ajak bobo dirumahnya sendiri, tetapi yang sudah berstatus istri juga bisa dikeloni oleh pendatang. Tidak mudah memang menemukan mereka yang bisa diajak begitu. Aku pernah penasaran jalan-jalan bertiga sama teman melintas Dukuhseti. Tidak ada yang bisa dijadikan pemberhentian untuk sekedar mencari informasi. Aku memaksa berhenti di sebuah warung kecil, dengan sedikit gaya diplomasi menanyakan keberadaan teman bobo di sekitar itu. Eh pemilik warungnya malah mengangkat alis. Dia katanya tidak pernah tahu. Lha kemana lagi nyarinya. Memang kalau ada kemauan selalu ada jalan. Dari oreintasiku yang gagal menemukan sasaran, akhirnya aku kembali ke Jakarta. Teman-temanku yang berasal dari Semarang, Demak dan Pati, termasuk dari Juwana kutanyai soal itu. Mereka pada melongo dan menyatakan belum pernah tau. Dua tahun aku memendam informasi itu, sampai suatu saat temanku orang Semarang mengatakan, dia punya teman yang mengenal betul Dukuhseti. Aku diberi no kontaknya. Tanpa menunda waktu, no kontak itu segera kuhubungi. Ternyata benar dia warga desa Pendem, desa dekat Dukuhseti, mengaku sering memandu orang Semarang dan Jakarta untuk menemukan pasangan di Dukuhseti. Segera kurancang liburan cuti untuk beravonturir ke wilayah Pantura Jateng itu. Dodo begitu nama kontakku, yang selanjutkan kusebut Kibus (kaki busuk), menyarankan aku agar datang ke sana tanpa membawa mobil atau sepeda motor. Dia menyarankan aku agar menggunakan kendaraan umum saja, karena jalur itu banyak dilayani kendaraan umum. Aku tentu tidak puas dengan hanya berbekal No HP, meskipun Dodo memberi lebih dari 1 nomor. Aku memaksa meminta no telp rumah. Meski rumahnya tidak ada telepon, tetapi no siapalah yang bisa menghubungi Dodo yang punya No telp rumah. Sebabnya bisa konyol, jika aku sudah mendekati sasaran, semua no HP nya tidak bisa kuhubungi. Singkat cerita aku sudah dijemput di satu titik di Dukuhseti. Dengan kendaraan sepeda motor, aku diajak ke rumahnya yang tidak berapa jauh. Rumahnya sangat asri, dengan kerimbunan pohon dan khas suasana desa. Setelah hidangan kopi dan singkong rebus siang itu Dodo lalu menanyakan seleraku untuk menemani tidur nanti malam. Aku bingung juga menyebut kriterianya. “ Pokoknya yang cantiklah,” kataku. Dodo lalu merapatkan duduk. Dia menunjukkan foto-foto yang tersimpan dalam HPnya. Dia menggunakan HP China dengan layar yang cukup lebar. Ada sekitar 15 orang dengan foto berbagai gaya, dari setengah badan sampai full body. Bingung juga aku memilih foto itu. Bagiku sama bingungnya seperti memilih foto di receptionist panti pijat. Dodo kemudian menceritakan latar belakang masing-masing orang dalam foto itu. Ada yang belum kawin, ada yang masih punya suami, ada yang janda lengkap dengan perkiraan umurnya. Dodo memang marketer yang piawai juga dia. Informasi dagangannya dikuasai penuh, bahkan dia mengetahui kelebihan masing-masing anggotanya. Karena kedatanganku ke Dukuhseti ini ingin merasakan sensasi yang mungkin jarang ditemui di daerah lain, aku memilih wanita yang masih bersuami. Dodo menawarkan 5 orang masing-masing dalam rentang usia 20 – 27 tahun dan sudah memiliki anak. Sulit bagiku membayangkan situasi di rumah itu, jika aku ingin memakai istrinya dan dikeloni semalaman. Gimana si suami, gimana si anak dan gimana lingkungannya. Meskipun berdebar-debar juga sebelum melakukan itu, aku akhirnya memilih wanita cukup cantik berusia 23 tahun baru punya anak 3 tahun dan tinggal serumah dengan suaminya. Dodo segera mengontak sasaranku, dan menjelaskan kemungkinan aku menginap semalam di rumahnya. Kelihatan di seberang sana ok, karena sambil menelepon Dodo mengangkat jempolnya ke aku, tapi diminta menunggu 2 jam dulu untuk mereka beberes dalam rangka akan kedatangan tamu. Dodo menyebutkan kisaran biaya yang diperlukan. Menurutku angka yang disebutkan Dodo masih wajar. Aku membandingkan dengan biaya menyewa cewek untuk tidur semalam di hotel di Jakarta. Rasanya angka yang disebutkan Dodo masih di bawah biaya itu. Aku sengaja tidak menyebutkan nominalnya, karena cerita ini jika dibaca 10 tahun lagi, bakal menggelikan karena nilai itu sudah tergerus inflasi. Aku banyak bertanya ke Dodo, mengenai bagaimana aku harus bersikap ketika hadir di tengah keluarga itu . Dodo malah dengan enteng menjawab, “Anggap saja Bapak berkunjung ke famili di kampung, ya begitu aja.” Setelah tiba waktunya, Dodo mengkonfirmasi sebelum kami berangkat. Ketika mendapat jawaban ok, kami pun berangkat. Aku dibonceng Dodo menuju rumah, yang disebut Dodo bernama Mbak Wani. Dodo mungkin sudah akrab dengan keluarga Mbak Wani. Dia santai saja langsung masuk ke rumah dan menemui langsung penghuninya. Lha yang keluar malah laki-laki berusia sekitar 32 tahun, ya sepantar Dodo lah. Aku sempat terkesiap juga. Tapi segera sirna ketika laki-laki itu yang ternyata suami Wani datang menyodorkan tangannya untuk bersalaman denganku, sambil mempersilakan aku duduk di dalam. Tentu saja aku tidak bisa membuang rasa rikuhku, sehingga mungkin aku terlihat canggung. “Santai aja pak” kata Dodo. “Iya santai aja disini udah biasa koq,” kata suami Wani. Tidak lama kemudian muncul sesosok wanita berkulit putih, rambut tergerai sampai hampir mencapai lengan membawa nampan berisi hidangan teh manis. Selesai meletakkan cangkir teh, dia menyalamiku dan memperkenalkan diri bernama Wani. Aku membantin dalam hati, wah lumayan ok juga, parasnya ayu, badannya tinggi sekitar 160 dan dadanya ukuran normal, tidak terlalu besar, dan juga tidak rata. Dia duduk di sebelah Dodo, karena memang dodo menempati sofa panjang, sedang suaminya duduk di kursi tambahan. “Piye kabare mas, “ katanya sambil menepuk paha Dodo. Yang ditegur sedang asyik mengisap kretek Jarum Coklat. “Iki tak kenalke dholor anyar, “ kata Dodo yang maksudnya dia membawa keluarga baru, maksudnya membawaku. Waktu itu jam di tangan sudah menunjukkan 5 sore. Suami Wani pandai juga mencairkan suasana sehingga kecanggunganku mulai sirna. Dodo mengkodeku dengan kedipan mata mengajakku keluar. Aku mengikutinya. Dodo mengatakan agar uangnya langsung diberikan ke Wani. Dodo lalu mau pamit dan menanyakan jam berapa aku mau dijemput besok. Aku bilang sekitar jam 9 -10 lah, nanti aku telepon lagi soal itu. Kami berdua kembali masuk ke ruang tamu, dodo langsung pamit. “ Kok kesusu toh mas,” kata Wani berbasa-basi. Sepeninggal Dodo aku diajak suami Wani untuk meletakkan ranselku dikamar tidur yang akan kutempati. “ Silakan pak kalau mau istirahat, “ katanya. Aku tentu saja rikuhlah masak baru datang langsung mau tiduran. Aku permisi ingin ke kamar mandi. Suami Wani menunjukkan arah kamar mandi. Aku segera melampiaskan hasrat kecilku. Selesai itu, ketika keluar aku berpapasan dengan Wani. Uang yang sudah kusiapkan ku serahkan langsung ke tangannya. Dia menyatakan terima kasih, lalu ku sambung dengan permintaanku dibuatkan kopi. Aku kembali duduk di ruang tamu sambil menonton TV. Suami Wani tidak kulihat. Kata Wani pergi naik motor bersama anaknya ke warung. Sampai hari gelap suami Wani belum juga muncul. Aku ditawari untuk menyegarkan badan dengan mandi. Memang badanku terasa lengket karena perjalanan dari Jakarta tadi terlalu pagi. Aku segera mandi . Sekembali dari kamar mandi rasanya mulai ngantuk. Padahal baru jam 6 sore. Aku mencoba rebahan . Mungkin tempat tidur yang kutempati ini adalah tempat tidur Wani dan suaminya. Sedang aku memandang keliling kamar, tiba-tiba Wani masuk dan langsung mengunci pintu. “Ayo mas istirahat dulu, apa mau saya pijetin,” kata Wani. Tawaran yang sulit ditolak, tentu saja kusetujui dengan langsung membuka bagian atas dan membiarkan celana pendek tetap terpasang. Aku telungkup. Wani memulai memijat dari kaki sampai ke punggung. Selesai bagian belakang dia minta aku berbalik ke posisi telentang. Penisku sudah mengeras dari tadi, ketika aku telentang celana pendekku jadi menonjol bagian depannya. Wani mulai lagi memijat dari kaki Sampai bagian vital, tanpa ragu-ragi Wani meremas penisku. Aku tentu saja melenguh keenakan. Tanpa minta izin Wani memelorotkan celanaku sekalian celana dalamnya. Penisku yang terbebas segera dijadikan sasaran hisapan mulut Wani. Aku menggelinjang-gelinjang merasakan sensasi oral Wani. Dia cukup lihai melakukan oral. Tidak berapa lama dia kemudian melepas semua pakaiannya sehingga bugil. Lampu kamar diredupkan. Meskipun cahaya remang-remang aku masih bisa melihat tubuh montok Wani. Ternyata susunya lumayan gede dan masih kenceng. Jembutnya cukup lebat, dan pinggulnya melebar. Wani kembali mengoralku. Aku terus bertahan agar tidak sampai jebol. Kutarik tubuh Wani menindihku lalu kubalikkan sehingga aku jadi menindihnya. Aku menciumi wajahnya, lehernya. Terasa bau wangi sabun. Dia mungkin baru selesai mandi. Susunya menjadi sasaran selanjutnya, kiri dan kanan ku kenyot. Pentilnya sudah agak membesar. Mungkin akibat menyusui. Wani menggeliat-geliat. Ciuman ku teruskan ke bawah dan aku harus menguak rimbunan jembut agar bisa menemukan belahan memeknya. Kujilati seputar vaginanya dan akhirnya aku membekap mulutku ke sasaran dan lidahku mengusap clitorisnya. Wani mulai kelojotan ketika penisnya terus aku serang. Dia merintih-rintih seolah di rumah ini hanya kami berdua. Wani tidak mampu bertahan lama, karena dia akhirnya mencapai orgasmenya yang pertama. Aku segera memasukkan penisku ke dalam belahan memeknya. Terasa hangat dan cairannya agak lengket. Efeknya penisku serasa dicekat oleh liang Wani. Aku menggerakkan maju-mundur dengan ritme yang pelan, tetapi berusaha menggeruskan bagian atas liang vaginanya. Namun rasa nikmat tidak bisa kupungkiri sehingga aku akhirnya tidak sabar dan mempercepat gerakanku. Aku sudah semakin dekat dengan ejakulasi dan rasanya tidak terbendung lagi. Aku genjot dengan gerakan kasar dan cepat. Saat ejakulasiku tiba kutekan dalam-dalam penisku ke dalam memek Wani. Wani rupanya juga mencapai orgasmenya, karena aku merasa cengkeraman lubang vaginanya dengan ritme yang hampir sama dengan ritme ejakulasiku. Selesai hubungan itu kami istirahat sebenar. Wani bangkit mengambil handuk kecil yang sudah dia basahi. Sekujur penisku di bersihkannya dengan telaten, sampai bersih benar. Handuk yang sama juga digunakan untuk membersihkan memeknya sebelum dia kembali mengenakan pakaian. Aku bangkit untuk kembali memakai kaus dan celana boxer ku. Rasanya lelah juga habis bertempur dengan Wani. Setelah Wani keluar kamar aku mencoba istirahat sambil berbaring. Rupanya aku jatuh tertidur. Aku sadar ketika Wani membangunkanku sekitar jam 9 malam untuk makan malam. Dengan mata masih berat aku bangun. Sekeluar dari kamar aku langsung ke kamar mandi untuk BAK dan mencuci muka. Di ruang tengah sudah menanti makanan, katanya makanan itu khas Pati, nasi Gandul. Aku baru pertama ini makan nasi gandul. Nasi dengan lauk seperti semur daging, tapi rasanya beda dengan semur. Suami dan anak Wani ikut makan bersama. Kami sudah seperti keluarga. Namun uniknya keluarga baru jadian yang langsung meniduri istri tuan rumah. Enak Tho, Mantap Tho, kata almarhum Mbah Surip. Selesai makan aku duduk di ruang depan sambil menghisap rokok ditemani suami Wani. Kami ngobrol ngalor ngidul gak ada isi. Tapi rasa penasaranku menggelitik juga ingin mengetahui pandangan suami Wani dan penduduk sekitar sini yang membolehkan istrinya ditiduri orang lain. “Wah disini sudah biasa begitu Pak, tetapi akhir-akhir ini agak dibatasi, karena Lurah dan Camat tidak ingin daerahnya dicap jelek.,” kata suami Wani. Kami ngobrol sampai jam 11 malam, sampai akhirnya suami Wani mempersilakan aku istirahat. Aku turuti, karena memang agak ngantuk juga. Sebelum masuk peraduan, aku sikat gigi dulu biar mulut terasa segar. Di dalam sudah ada Wani yang berbaring. Kuredupkan lampu dan aku berbaring di sebelahnya. Kami mulai lagi bercumbu sampai akhirnya berdua bugil. Permainan dilanjutkan dengan berbagai posisi. Permainan kali ini agak lama karena aku agak bisa menahan lama ejakulasiku. Seperti tadi sore selepas aku melepas hasratku, Wani membersihkan penisku dengan handuk basah. Dia menawariku mengenakan sarung. Aku tanpa celana dalam dan kaus mengenakan sarung. Suasana desa itu tidak terlalu dingin, tetapi juga tidak gerah. Wani keluar lalu kembali dengan juga mengenakan sarung. Dia membuka semua pakaian atasnya dan tidur di sebelahku . Wani tidur memelukku, sehingga teteknya menekan pundakku. Aku yang sudah lelah dan ngantuk akhirnya jatuh tertidur. Entah sudah berapa lama aku tidur, terbangun karena merasa ada sesuatu. Penisku rupanya sudah menjadi santapan Wani. Dia dalam keadaan telanjang menelungkup diantara kedua kakiku sambil melomoti penisku. Kulirik jam tangan , baru jam 5 pagi, tetapi dari kisi-kisi jendela sudah mulai terlihat ada cahaya terang. Permainan pagi adalah yang paling aku sukai. Rasanya badan kembali fit untuk melakukan pertempuran. Aku pasrah dikerjai Wani. Setelah puas mengoralku, dia mulai menduduki penisku dan dengan gerakan hati-hati dia mulai menggenjot dengan gerakan naik turun. Dia mengira aku masih tertidur sehingga gerakannya terasa sangat hati-hati. Namun sejalan makin meningkatnya nafsu birahi menjalari tubuhnya, Wani mulai melakukan gerakan kasar sambil mendesis-desis. Gerakannya juga kini sudah berubah menjadi maju mundur. Penisku seperti diperas di dalam memek Wani. Nikmat sekali rasanya, tetapi aku terus bertahan dengan pura-pura tidur. Kelihatannya Wani mendekati orgasme sehingga dia melakukan gerakan dengan semangat sambil terus mendesis. Benar juga tak lama kemudian dia menghentikan gerakan lalu ambruk ke dadaku. Sekujur liang vaginanya berkedut-kedut. Aku yang lagi tanggung untuk mencapai orgasme langsung membalikkan posisi. Wani kugenjot dengan mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi. Sensasi jepitan memeknya terasa nikmat sekali. Namun posisi itu tetap sulit bagiku untuk menghantar orgasme. Aku kembali ke posisi awal sambil setengah menindih Wani malakukan gerakan keluar masuk ke memek Wani. Rasa memek Wani memang sedap sekali, legit dan mencengkeram. Tidak bisa bertahan lama aku segera menyemprotkan ejakulasiku ke rahim Wani. Setelah itu aku terbaring lemas di sisnya. Kami berdua dalam keadaan telanjang bulat berbarih rehat setelah bertempur sekitar setengah jam. Wani bangkit menyerahkan sarung agar aku pakai. Dia minta aku menunggu sebentar di kamar sambil istirahat. Dia dengan mengenakan sarung dan kaus keluar kamar. Sekitar 15 menit, Wani masuk dan menarikku bangun. Aku diajaknya ke kamar mandi . Aku turuti apa yang dikehendaki, tanpa tahu ujungnya bagaimana. Ternyata di kamar mandi sudah tersedia air panas. Kata Wani, air panas itu disiapkan oleh suaminya. Wani membuka semua bajunya lalu bajuku. Engan dengan telaten memandikanku bagaikan memandikan anak kecil. Semua bagian dia usap dengan sabun sampai ke belahan pantat dia bersihkan. Nikmat sekali service Wani van Dukuhseti ini. Mungkin kalau dirating, servicenya dapat point 9. Selesai kami berdua mandi, Wani membimbingku kembali ke kamar. Aku dibedakinya dengan bedak talk dan dikenakannya pula bajuku. Wah benar-benar dimanjakan rasanya. Aku sudah barang tentu segar bugar. Namun perut terasa lapar juga, Tidak lama kemudian muncul Wani mempersilakan aku menikmati sarapan nasi goreng. Selepas itu aku kembali duduk di ruang tamu sambil menikmati seiaran berita pagi. HP ku bergetar, Dodo mengontakku, dia tanya apa mau dijemput sekarang. Aku segera menyetujui. Tidak sampai 10 menit Dodo sudah muncul. Aku berpamitan dengan Wani dan suaminya, berjanji kapan-kapan akan mampir lagi kalau ke Dukuhseti. Dodo dasar seorang marketer yang berbakat, dia menawariku lagi pasangan untuk menginap semalam lagi di desa. Ditunjukkan foto di HP. Wajahnya manis, kulitnya putih, dan kelihatan masih muda. “ Baru 18 tahun pak, belum pernah kawin dan belum punya anak, ini sip pak. Orang nya lebih cantik dari fotonya , dijamin mantap lah pak.” Kata dodo terus berpromosi. Setelah kutimbang-timbang akhir setuju memparpanjang semalam lagi di Dukuhseti. Dodo segera mengontak cewek yang dia promokan. Cewek itu bernama Harti tinggal di Desa Pendem, tidak jauh dari tempat tinggal Dodo. Kami berdua segera meluncur menuju sasaran. Rumah Harti tidak sebagus rumah Wani. Keluarganya hidup sangat sederhana . Rumahnya separuh batu, yang separuh lagi dari anyaman bambu yang dilapisi kertas lalu dicat pakai kapur tembok. Model rumahnya kayak model joglo, lantainya semen. Sesampainya dirumah tujuan Dodo seperti biasa langsung blusak-blusuk ke dalam, sementara aku menunggu di amben di teras rumah. Rumahnya agak masuk ke dalam gang dan halamannya tertutup pohon rimbun, diantaranya ada pohon pisang. Tidak lama kemudian keluar sepasang suami istri yang kutaksir berumur sekitar 40 tahun. Mereka memperkenalkan diri sebagai bapak dan ibunya Harti. Aku dipersilakan masuk duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian muncul gadis yang bernama Harti dengan rambut diikat kebelakang. Ia membawa nampan berisi teh tawar. Wajahnya khas abg, masih segar, cantik , putih dan tingginya kutaksir hampir 165. Gadis-gadis di Dukuhseti ini banyak yang cantik-cantik. Konon katanya di zaman dahulu banyak orang Portugis mengawini wanita lokal. Sebenarnya bukan hanya di Dukuhseti, tetapi juga di Keling dan Tayu. Wah tapi itu mungkin di abad 17 apa 16 ya. Menurut catatan, benteng Portugis di Tayu dibangun antara tahun 1613-1645. Boleh jadi keturunan Portugis itu sudah generasi yang kesekian. Yang masih tersisa adalah wajah cantik dan kulit putih. Saat kami ke rumah Harti, jamnya adalah jam tanggung yaitu jam 11 siang. Janggal aja rasanya jam segitu sudah kelonan sama anak orang. Harti diminta duduk dekat ku dengan kursi tambahan oleh kedua orang tuanya setelah salaman dengan ku. Seperti biasa Dodo lalu pamit. Sepeninggalan dodo, kedua orang tua Harti juga undur diri kebelakang. Tinggallah aku dan Harti berdua di ruang tamu yang sederhana ini. Terlintas di otakku tiba-tiba untuk mengajak jalan-jalan Harti ke Pati. Paling tidak aku butuh ke ATM dan mungkin bisa menikmati wisata kuliner di kota itu. Ketika Harti kutawari itu, dia setuju. Dia pun bergegas mengganti pakaiannya dengan celana jeans dan kaus. Meski tampilan pakaiannya sederhana, tetapi kecantikannya terpancar dari auranya. Dengan kendaraan umum kami berdua menuju Pati. Tujuan pertama adalah mencari ATM. Setelah itu aku ingin menikmati wisata kuliner di kota ini. Harti tidak banyak tahu mengenai tempat-tempat makan. Dia hanya tahu tempat makan bakso. Yah mungkin seusianya , belum waktunya berkenalan wisata kuliner. Aku terpaksa menelpon Dodo. Dia merekomendasikan hidangan “ndas mayung””Kepala ikan mayung . Ini rasanya pas benar. Aku tentu saja tidak tahu alamat yang ditunjuk Dodo, tetapi dengan bantuan becak dan pengetahuan Harti yang agak terbatas, akhirnya ketemu juga warung yang menyediakan menu kepala ikan mayung dimasak mangut. Yakni berkuah santan dengan rasa agak pedas. Lumayan sedap santapan yang direkomendasikan Dodo. Paling tidak tempat ini menjadi catatanku kalau kelak kembali ke Pati. Kuperhatikan Harti memiliki HP yang sudah ketinggalan zaman dengan layar masih hitam putih, padahal anak seusia dia, paling senang kutak-katik HP. Yah mungkin dia dari keluarga yang kemampuannya terbatas, sehingga tidak sempat mengeluarkan biaya untuk membeli HP model terbaru. Aku menanyakan dimana banyak orang menjual HP. Harti menunjuk satu lokasi lalu kami kesana. Dia sempat bertanya, mau cari apa kok nanya tempat penjualan HP. Aku bilang aja mau beli baterai HP ku karena sudah kurang bagus. Di tempat tujuan aku memilih satu toko yang kelihatannya mempunyai cukup lengkap koleksi HP Nokia. Harti heran melihat aku memilih-milih HP Nokia. Aku minta kepada penjual, tipe yang tipis, ada radio, ada kamera, bisa dengar lagu banyak dan modelnya candy bar. Aku ditunjukkan satu model yang kelihatannya ok. Lalu setuju aku beli. Setelah meninggalkan toko, Harti bertanya, “Lho tadi katanya mo beli baterai, kok malah beli HP toh oom,” tanyanya heran. “ Iya ini untuk kamu, “ kataku sambil menyerahkan bag berisi kotak HP. “Yang bener Oom, makasih yaaa, makasih, “ katanya dengan raut wajah kegembiraan. Harti lulus SMA tahun lalu, tetapi tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Selain tidak ada biaya dia merasa kemampuannya tidak nyampe untuk kuliah, apalagi harus ke Pati, atau ke Semarang. Dengan kendaraan umum kami kembali ke Dukuhseti, tepatnya ke Desa Pendem. Harti tidak sabar ingin melihat HP barunya. Dia segera mengeluarkan HP itu dari kotaknya dan mengutak-kutik sepanjang perjalanan pulang. Sampai-sampai hampir kelewatan kami turun dari angkutan. Sesampai di rumah Harti langsung melapor ke orang tuanya bahwa aku membelikannya HP baru. Naluri cewek terhadap HP memang luar biasa. Tanpa kuajari dia sudah paham soal menu dan penggunaan HP. Sesampainya di rumah Harti, aku merasa gerah dan ingin mandi. Kamar mandi di rumah ini agak kebelakang dan sepertinya di bagian luar rumah mendekati sumur. Setelah badanku segar, aku dipersilakan oleh kedua orang tua Harti untuk beristirahat di kamar. Kamar untukku sudah dipersiapkan rapi, ada kelambunya segala. Enak sekali rasanya berbaring menghilangkan kepenatan jalan ke Pati tadi. Tanpa kusadari ternyata aku tertidur. Aku terbangun setelah mungkin tertidur sejam, karena merasa kakiku dipijati. Ternyata Harti dengan hanya berkemben sarung duduk di bagian kakiku memijati kakiku kiri dan kanan. Segera dia kutarik untuk berbaring disampingku. Kupeluk dan kuciumi pipi dan lehernya. Harti bereaksi dengan mendongakkan kepala. Sarungnya kubuka , ternyata Harti tidak mengenakan BH. Buah dadanya mancung dengan puting yang kecil. Kenyal sekali ketika kuremas-remas. Aku melepaskan sarungnya melalui cara memelorotkan ke bawah. Ternyata dia juga tidak mengenakan celana dalam. Terasa tersentuh jembut tipis dari memek yang mentul. Jari tengahku segera beroperasi di belahan memeknya yang sudah mulai basah. Kedua tetek ranumnya kuciumi dan pentilnya sekali-kali kuhisap dan kugigit pelan. Harti sudah terangsang. Kakinya dibukanya lebar-lebar. Aku ingin mencicipi rasa memek abg 18 tahun ini. Aku segera menjilati seputaran turuk mentulnya. Harti menggeliat-geliat.Apalagi ketika itilnya kujilat. Dia makin gelisah.aku terus bertahan menyerang klitorisnya sampai akhirnya dia mencapai orgasme. Giliran berikutnya aku menancapkan batang penisku dan memompanya. Harti terengah-engah menikmati sodokanku. Aku berganti posisi dogy, setelah itu posisi WOT, akhirnya kembali lagi ke posisi MOT sampai aku melepaskan tembakan mani di dalam memeknya. Kami berbaring berdampingan. Harti kelihatan kelelahan karena dia langsung tertidur nyenyak. Aku kembali mengenakan pakaian untuk ke kamar mandi belakang. Di dapur kulihat ibu Harti sedang sibuk menyiapkan masakan. Tadi siang sebelum aku berangkat ke Pati sudah sempat menyelipkan uang jasa untuk Harti ke ibunya. Mungkin saja dari uang itu dia menyiapkan hidangan untuk nanti malam. Aku kembali ke kamar dan tidur disamping Harti. Anak ini pulas sekali tidurnya. Mungkinkah dia mencapai orgasme yang paripurna, karena biasanya cewek kalau mendapat kepuasan sex yang tinggi akan mengantuk dan tidurnya sampai ngorok. Nah si Harti juga ngorok halus, sambil tetap telanjang. Tidak ada yang dapat kukerjakan kecuali ikut tidur lagi. Aku terbangun hari sudah malam dan yang membangunkanku adalah Harti. Dia mengajakku makan malam. Hidangan soto kemiri, yang khas Pati sudah terhidang di meja dalam keadaan berasap. Aku memang sudah keroncongan dari tadi, tanpa rasa sungkan aku langsung menyendok nasi dan soto. Nikmat sekali rasanya. Ibu Si Harti pintar masak rupanya. Selepas makan malam aku duduk di depan dengan hidangan kopi panas tubruk, mengobol dengan Bapak. Dia bercerita tentang pertanian dan nelayan. Kedua bidang itu sekarang makin berat dijadikan sandaran hidup. Pertanian selalu dipermainkan oleh harga, sementara mencari ikan makin sulit. Aku menimpali seadanya, sesuai dengan pengetahuanku. Namun si ayah bersemangat sekali cerita. Aku merasa heran juga, dia sama sekali tidak jengah kepadaku, padahal, jelas-jelas anaknya baru kutiduri, dan itu dirumahnya. Suasana seperti ini sebenarnya yang kucari sampai jauh-jauh datang ke Dukuhseti. Kalau sekedar mencari, cewe, banyak yang cantik di Jakarta, tempat menginap di sana juga jauh lebih nyaman, tetapi aku tidak mendapatkan suasana apa-apa, kecuali menikmati tubuh lawan mainku. Aku merasa menyelami isi hati masyarakat setempat, sampai mereka bisa menerima “tamu” untuk main dirumahnya sendiri. Kami ngobrol sampai jam 11 malam dan ayah Harti mempersilakan aku untuk istirahat, karena besok akan melakukan perjalanan jauh kembali ke Jakarta. Aku masuk ke kamar, kulihat Harti sudah tidur tergolek, lampu sudah dipadamkan . Sumber cahaya hanya dari celah-celah lubang angin. Kuperhatikan Harti sudah mengenakan kemben sarung seperti tadi sore. Aku pun mengikuti mengenakan sarung langsung tidur di sebelahnya. Begitu aku berbaring, Harti langsung memelukku. Sambil berpelukan aku ngobrol mengenai kehidupan di desa ini terutama soal cewek yang bisa diajak tidur. Banyak temen-temen Harti yang tamat SMA, atau malah yang masih sekolah sudah menerima “tamu” di rumahnya. Menurut dia tradisi itu sudah berlangsung lama, mungkin sejak neneknya mereka sudah melakukan hal itu. Makanya mereka sampai sekarang mewarisi tradisi itu. Aku malam itu hanya kuhabiskan dengan ngobrol sampai tertidur. Mau bertempur rasanya lagi hilang selera. Kami tidur berpelukan . Paginya ternyata penisku masih bisa berdiri. Aku mulai mencumbu Harti. Dia terbangun dan menanggapi cumbuanku. Pagi itu sekitar jam 5 kami menuntaskan nafsu birahi kami, sampai aku jatuh tertidur lagi. Entah jam berapa aku dibangunkan Harti, katanya Dodo sudah datang. Biasanya dia nelpon aku kalau mau datang, kali ini kenapa dia langsung nongol, padahal aku belum mandi. Dodo mempersilakan aku mandi dan membereskan barang-barang. Dia memang sengaja datang tanpa menelpon. Katanya ada informasi penting. Bikin penasaran saja sampai sarapan yang dihidangkan ibunya Harti tidak bisa kunikmati. Setelah berbasa-basi sejenak. Aku pamit meninggalkan kediaman keluarga Harti. “Ada apa sih Do, kamu kok kelihatannya penting banget,” tanyaku. “Sabar bos, nanti saja dirumah saya jelaskan,” katanya. Sesampai dirumah, Dodo menghidangkan kopi tubruk. Memang mantap menghirup kopi, sambil menyedot rokok kretek. “ Ini bos ada cewek yang masih segelan, lagi butuh uang. Orangnya cakep masih 16 tahun. Saya kemarin sore kerumahnya. Ini fotonya,” kata Dodo sambil menunjukkan gambar di HP nya. Memang bener anaknya masih imut, putih, rambutnya lurus. “ Nggak banyak kok mintanya, “ kata Dodo sambil terus menyebutkan angkanya. Aku membatin dalam hati, jumlah yang disebutkan Dodo itu tidak jauh dengan harga HP yang kubelikan untuk Harti, kemarin. Di Jakarta kalau pun ada cewek yang masih segelan (perawan), harganya jauh di atas itu dan parasnya tidak pula semanis dengan cewek yang ditawarkan Dodo. “Bener dia mau buka segel, anaknya apa udah mau, jangan-jangan karena dipaksa orang tuanya,” tanyaku. “Enggak bos, anaknya udah siap, saya sudah tanyai anaknya langsung kok, pokoknya kalau bos berminat kita bisa kesana sekarang,” katanya. Aku berpikir sejenak, cutiku yang kuhabiskan di Dukuhseti ini bakal sempurna, karena mendapatkan multi source. Aku menyetujui. Tunggu bos nggak bisa sekarang, anaknya masih sekolah di SMP kelas 3. Biasanya anak SMP pulang jam 2 an. Nanti jam 3 saja kita kesana. Sekarang santai aja dulu katanya. Sekitar jam 2 lebih, HP Dodo berdering. Ternyata dari keluarga si perawan itu. Mereka menanyakan apakah aku jadi menginap dirumahnya. Dodo menjawab sambil jempolnya diacungkan. Mungkin maksudnya dia juga berkomunikasi dengan ku. Paling tidak dia ingin mengatakan, siiip. Kami berdua lalu meluncur dengan sepeda motor Dodo ke sasaran. Sebuah rumah yang sederhana, agak terpencil dari tetangganya. Halamannya luas bersih dari tanaman rumput, karena terlindung oleh rimbunnya pohon mangga. Rumahnya tidak jauh mutunya dari rumah Harti. Aku segera disambut, oleh keluarga Pak Santo suami istri. Tidak lama kemudian muncul gadis yang akan menjual segelnya masih berseragam SMP dengan rok biru. Badannya belum berkembang penuh, meski teteknya sudah kelihatan tumbuh. Namun tubuhnya agak bongsor, maksudnya tinggi. Mungkin sekitar 160 cm. Dengan malu-malu dia menyalamiku. Kami akhirnya masuk ke ruang tamu. Disitu, Pak Santo, istrinya dan cewek itu yang kemudian kuketahui bernama Nurmala. Dengan bahasa Jawa Dodo mengkonfirmasi bahwa memang benar Mala, begitu panggilannya akan menjual keperawanannya. Kedua orang tuanya menggangguk. Mala ketika ditanya soal kesiapannya juga mengangguk. “ Tuh bos, sudah lihat sendiri kan, mereka sudah rela, sekarang tingal bos sendiri memutuskan,” kata Dodo. Aku memutuskan setuju dan deal dengan harga yang mereka minta. Hati kecilku sesungguhnya merasa tidak tega. Betapa mereka mengorbankan barang demikian berharga untuk harga yang menurutku tak seberapa. Tapi pikiran lainku mengatakan, kalau bukan aku yang mengambil kesempatan ini, pasti ada orang lain yang akan mengambilnya. Aku mengode Dodo dengan kedipan, dia mengerti dan beranjak keluar bersamaku. “do aku nggak punya amplop,” kataku. “Sudah langsung aja, di kampung gak perlu amplop-amplopan,” kata Dodo. Aku segera menyerahkan sejumlah uang yang mereka minta kepada Pak Santo,. Aku memintanya dia menghitung kembali uang itu, tetapi dia menolak. Katanya dia tidak pandai menghitung uang. Aku dipersilakan langsung masuk ke kamar tidur, tetapi tawaran itu kutolak halus. Aku katakan aku ingin mandi dulu. Rumah di desa ini kebanyakan memiliki kamar mandi di luar rumah. Aku minta izin mau menyegarkan diri dulu. Pak Santo minta aku menunggu sebentar, karena dia akan mengisi air untukku mandi. Pintu kamar mandi hanya berupa korden . Sesungguhnya aku malu juga bertelanjang bulat di kamar mandi ini. Sebetulnya dibilang kamar mandi juga kurang tepat, karena hanya berupa ruangan dengan plesteran semen dan ada 2 ember plastik lebar yang penuh berisi air dan ada pompa tangan. Ketika aku sedang asyik buka baju, tiba-tiba Mala masuk kedalam, katanya dia juga mau mandi, karena gerah habis sekolah. Aku terbengong-bengong,. Bagaimana jadinya kok bisa begini. Mala tenang saja membuka baju sekolahnya sehingga tinggal BH dan celana dalam. BHnya , mungkin kurang tepat disebut BH, tetapi mungkin miniset, dan celana dalamnya terbuat dari kain katun. Dia membelakangiku dan mencopot miniset dan celana dalamnya lalu langsung berjongkok di dekat ember. Aku masih terbengong-bengong dan masih memakai celana dalam. Mungkin aturannya disini kalau mandi harus jongkok di samping ember. Tapi aku nggak pernah begitu. Rasanya kalau jongkok ada bagian tubuh yang tidak terguyur air. Jadinya ya aku terpaksa harus berdiri, dan apa boleh buat harus mempertontonkan kemalauanku ke Mala, sebelum bendera start dikibarkan. Mala tenang saja telanjang sambil jongkok menghadapku. Meski telanjang aku juga tidak leluasa mengamati tubuhnya, karena sebagian susunya tertutup lututnya dan kemaluannya tertutup ember dan jepitan kedua pahanya. Tadinya aku berharap kalau dia sabunan akan berdiri, tetapi nyatanya tidak dia tetap jongkok sambil menyabuni tubuhnya. Mungkin kalau kamar mandi ini tidak hanya ditutup kain korden di pintunya aku sudah menawarkan diri menyabuninya. Tapi rasanya jadi malu kalau ketauan orang tuanya diluar. Akhirnya aku cuek aja menyabuni diriku dan alat vitalku. Herannya Mala kok tidak tertarik memperhatikan kelaminku. Pandangannya biasa saja. Aneh juga. Selesai mandi Mala hanya berbalut handuk keluar dan aku berpakaian lengkap dengan celana panjang jins dan kaus oblong. Sekeluar dari kamar mandi aku diarahkan oleh Pak Santo untuk masuk kamarku. Dia lalu menutup pintu. Di dalam aku melihat Mala sedang duduk dipinggir tempat tidur masih berbalut handuk yang dia pakai keluar kamar mandi tadi. Aku duduk disampingnya. “ Kamu sudah siap,” Dia menjawab dengan menggangguk. “Apa kamu nggak takut” Mala mengelengkan kepala. “Kamu sudah punya pacar ?” Dia kembali menggelengkan kepala. “Sudah pernah pacaran ?” Kembali kepalanya digelengkan. “ Kok kamu berani memberikan keperawanan kamu ke saya, “ tanyaku. “Aku nggak mau kayak teman-temanku keperawannya diambil oleh pacarnya lalu ditinggal. Mendingkan kayak gini aku dapat duit,” katanya. Jawaban yang diluar perkiraanku ini masuk akal juga. Dia tidak mau melepaskan keperawanannya secara gratis, apalagi ke pacarnya seperti teman-temannya lalu ditinggal . Mala kupeluk. Dia diam saja. Lalu kuajak rebahan. Dia menurut. Aku mulai menciumi keningnya, pipinya, telinganya kiri dan kanan. Terasa sekali kalau gelagatnya dia masih kaku. Handuknya kubuka, maka terpampanglah kedua payudaranya yang baru tumbuh. Pentilnya masih kecil dan aerolanya juga belum lebar. Kedua susunya menjadi sasaran ciuman dan kenyotan mulutku. Mala diam saja pasrah. Tanganku pun beroperasi kebawah menjangkau kemaluannya, Tanganku merasa di sana belum ada ditumbuhi bulu. Yang terasa hanya bulu-bulu halus. Ketika handuknya kubuka, terlihat memeknya memang masih relatif gundul dan menggembung. Kuciumi susunya lalu perutnya dan perlahan-lahan turun ke gundukan memeknya. Mala mengenluh geli. Aku tidak memperdulikan, Kedua kakinya kurenggangkan sehingga belahan memeknya agak terbuka sedikit. Warnanya merah muda. Jilatanku langsung menuju belahan itu. Mala mengeluh karena rasanya geli. Aku minta dia bertahan sebentar, karena rasa geli itu nanti akan hilang. Lidahku beroperasi di belahan memek Mala dan ujung clitorisnya terlihat agak mencuat. Aku menjilati ujung itil itu, Mala menggeliat, geli sekali katanya. Aku bersabar tidak langsung menjilat ujung itilnya lagi, tetapi di seputar itilnya sampai dia merasa tidak geli lagi. Badannya berjingkat-jingkat menandakan ada rasa nikmat yang dia rasakan. Dengan sentuhan halus lidahku mulai bermain di itilnya. Mala mendesis tertahan. Dia melonjak-lonjak setiap kali itilnya kusapu dengan lidah. Lama sekali aku bermain oral di kemaluannya tetapi aku tidak merasakan dia mencapai orgasme. Akhirnya aku bosan dan aku mulai menindihnya . Kepala penisku ku posisikan di depan lubang kemaluan Mala. Dia kelihatan tegang. Aku minta agar jangan tegang, karena nanti akan terasa sakit. Penisku berkali-kali kepeleset gagal memasuki lubang tujuan. Aku bangkit dan membasahi ujung penisku dengan ludah. Sambil duduk kubuka lebar belahan memeknya dan kepala penisku kudorongkan ke liang vaginanya. “Oom pelan-pelan oom, sakit,” katanya. Aku minta dia menahan sakit itu sebentar. Kepala penisku mulai berhasil menerobos masuk, meski hanya bagian kepala saja. Kudorong lebih jauh, tetapi terasa sukar. Aku tidak menyerah, dan terus mendorong, sampai masuk agak dalam dan akhirnya tertahan. Mungkin selaput daranya menahan laju masuknya penisku. Kutarik sedikit penisku lalu didorong lagi. Begitu berkali kali sampai jalannya agak lancar. Tetapi untuk masuk terus masih ada halangan. Aku mengeraskan penisku dan mendorong sedikit agak kuat. Terasa ada sesuatu yang pecah di dalam. Mala menjerit kecil sambil mengatakan sakit. Aku terus mendorong, dan penisku bisa makin dalam memasuki liang vaginanya yang masih perawan. Ketika semua batang penisku sudah ambles. Terasa lubang vaginanya sangat mencekam. Ketat sekali rasanya. Ketika kutarik sedikit Mala meringis, menahan sakit lalu kudorong lagi, sampai akhirnya gerakanku agak lancar baru aku berani memompa dengan gerakan agak panjang. Memeknya sempit banget, maklum masih perawan. Sehingga aku pun tidak mampu bertahan lama dan pecahlah spermaku di dalam memek mala. Kubiarkan penisku di dalam memeknya sampai akhirnya susut dan pelan-pelan kutarik keluar. Mani tidak terlalu banyak, karena selama 2 malam ini terus-terusan bertempur. Kulihat di penisku ada sedikit darah. Dan di sprei juga ada sedikit mani bercampur darah . Mala mengatakan memeknya perih. Aku jelaskan bahwa memecahkan perawan memang selalu terasa perih. Untuk selanjutnya kuyakinkan bahwa rasanya tidak akan sesakit itu lagi. Aku beristirahat . Mala bangkit dengan berkemben handuk dia keluar kamar. Dia kelihatannya mencuci memeknya. Aku pun membersihkan penisku yang agak belepotan mani dan darah dengan tissu lalu kembali mengenakan pakaian lengkap. Aku berbaring saja di kamar untuk beristirahat. Mungkin karena kelelahan aku tertidur. Aku dibangunkan Mala ketika hari sudah mulai gelap. Setelah membersihkan diri ke kamar mandi aku dipersilakan makan malam. Tidak ada rasa canggung baik Pak Santo maupun istrinya, juga Mala berhadapan denganku. Kami ngobrol dan meneruskan obrolan ke ruang tamu. Belum jam 10 aku dan Mala sudah digiring lagi oleh Pak Santo masuk ke kamar tidur. Di dalam kamar Mala hanya tidur terbujur. Aku mengorek informasi mengenai lingkungannya dan akhirnya malam itu aku main sekali lagi. Agak lama meski memeknya yang kuterjang masih sempit. Rasanya dia belum bisa menikmati persetubuhan, karena katanya memeknya masih agak perih. Selesai “bermain” kami tertidur lelap. Paginya sebetulnya aku masih ingin menggenjot sekali lagi. Tetapi seleraku sudah hilang, sehingga niat itu urung. Aku bangun pagi langsung mandi kebelakang dan memompa sendiri air. Tak lama kemudian Mala pun menyusul. Kami kembali mandi berdua. Tapi kali ini aku tidak canggung-canggung memandikan Mala dan menyabuninya. Dia pun mau ketika kuminta menyabuni tubuhku. Aku tidak perduli jika pun ada yang melihat sekilas dari luar aktifitas kami di kamar mandi. Sebelum aku pamit, aku sempat menyelipkan sejumlah uang sebesar setengah dari harga yang diminta kemarin langsung ke Mala. Pesanku, “ ini untuk beli HP baru.” Tak lama kemudian Dodo sudah muncul. Aku langsung naik ke boncengannya dan dia kembali membawaku kerumahnya. “ Gimana bos masih kuat. “ aku bilang aku sudah menyerah, gak kuat lagi. Aku diantar Dodo ke pemberhentian angkutan dan dengan itu aku kembali ke Semarang dengan berganti bus di Pati. Di semarang aku sempat menignap semalam, baru keesokan siangnya aku terbang kembali ke Jakarta. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s