berteduh

Standar

Aku mendapat tugas ke wilayah utara Karawang. Di sana pada waktu itu penduduknya dilanda kekurangan pangan, sampai banyak yang mengkonsumsi enceng gondok untuk makanan. Aku sama sekali belum pernah ke daerah ini. Dari Jakarta cukup jauh jaraknya, mungkin sekitar 100 km. Aku memang senang berpetualang, sehingga mendapat tugas ke daerah yang jauh seperti ini, bagiku menyenangkan. Dari Jakarta aku mengendarai sepeda motor. Sekitar 2 jam baru aku mencapai Karawang. Menjelang memasuki Karawang, ada persimpangan ke kiri arah Rengkas Dengklok. Sebenarnya aku tidak punya tujuan khusus untuk di datangi, tetapi arahnya adalah Karawang Utara. Aku mencoba mengarahkan tujuan ke Rengkas Dengklok. Sampai di kota kecil itu perjalanan lancar-lancar saja dan dari pengamatanku di sepanjang jalan, tidak ada tanda-tanda masyarakatnya sedang dilanda bencana kelaparan. Dari Rengkas Dengklok. hatiku membawa ke arah utara. Aku lalu menyusuri sungai aliran irigasi. Sudah hampir satu jam aku berjalan, tetapi tidak ada tanda-tanda akan mendekati kampung. Keadaan kiri kanan jalan mulai jarang rumah. Hamparan sawah yang mengering. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 3 sore,. Meski aku tidak tahu tujuanku, tetapi aku memastikan, suatu saat nanti aku akan bertemu dengan pantai. Rencanaku di sanalah aku akan beristirahat malam. Aku tidak tahu seperti apa situasi kampung di depanku. Namun aku yakin pasti ada desa nelayan, dan di situ pasti ada warung yang buka 24 jam. Di daerah nelayan memang biasa terdapat warung-warung yang buka 24 jam. Paling tidak di situ aku bisa istirahat. Sambil aku berpikir mengenai tujuan di depanku, tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung berat. Kupercepat laju kendaraan, tetapi hujan sudah mendahului dengan rintik-rintik. Aku mencari tempat berteduh, tetapi di kiri kanan jalan tidak ada warung, bahkan rumah pun tidak ada. Aku melihat di kejauhan ada kerimbunan pohon-pohon yang dapat kupastikan di sana ada rumah penduduk. Motor kuarahkan keluar dari jalan besar dan masuk ke jalan gang. Sekitar 100 m memang terlihat ada perkampungan. Aku segera mengarahkan motorku ke salah satu rumah yang mempunyai teras agak besar. Rumah ini memang agak terpencil dari lainnya. Aku tidak perduli yang penting aku tidak semakin basah. Aku buru-buru meninggalkan motor dan segera berteduh. Hujan semakin deras. Pemilik rumah keluar menemuiku. Aku segera mengatakan bahwa aku numpang berteduh. Dia menyalamiku dan mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. Aku menolak, karena terasnya cukup buat aku berteduh. Namun dia tetap menyilahkan aku masuk saja di dalam karena di luar angin sangat kencang dan agak tempias. Aku akhirnya menuruti kemauannya. Dengan agak segan, aku duduk di ruang tamu rumahnya. Kuperhatikan rumahnya sangat sederhana, dengan lantai diperkeras semen dan dindingnya dari anyaman bambu. Pemilik rumah memperkenalkan diri Karta. Kutaksir usianya sekitar 35 tahun. Dia 14 tahun lebih tua dari aku. Sedang kami saling mengobrol basa basi, dari dalam keluar seorang wanita sambil membawa minuman, teh hangat dan singkong rebus yang masih mengepul. Aku jadi nggak enak hati. Aku bukan bertamu, hanya numpang berteduh, tetapi diperlakukan sebagai tamu. Bukan teh hangat dan singkong ngebul yang menarik, tetapi wanita yang membawanya. Seorang wanita yang kutaksir berumur 20 tahun, putih, mukanya cukup manis dan bodynya montok. Pak Karta memperkenalkan aku kepada wanita itu yang ternyata adalah istrinya. Dari matanya aku dapat menangkap, istri Pak Karta , kelihatan genit dan berani. Bu Karta kemudian ikut nimbrung ngobrol. Dugaanku kelihatannya ada benarnya. Bu Karta memang lebih agresip. Dia tidak seperti ibu rumah tangga umumnya yang kelihatannya selalu dibelakang suami. Ini malah dia seperti memposisikan diri lebih ke depan daripada suaminya. Dari cerita mereka, Bu Karta dikawin masih muda, mungkin sekitar 13 tahun. Kawin dengan Karta bukan dari gadis, tetapi dia sudah janda ketika berumur 17 tahun.. Mereka sendiri yang buka kartu. Aku tidak mungkin berani lancang mengorek hal-hal pribadi seperti itu. Hujan makin deras, padahal hari sudah mulai gelap. Aku jadi gelisah, karena tidak mungkin meneruskan perjalanan pada malam hari. Untuk numpang tidur di rumah ini, aku tidak punya keberanian memohonnya. “Masnya nginap di sini saja, ” kata istri Karta. Belum sempat aku menjawab, Karta menimpali, “ Iya temani istri saya, karena saya malam ini dapat giliran ronda.” Aku bingung dengan tawaran itu. Masak baru kenal diminta menemani istrinya, dan sang suami pergi. “Terima kasih, saya nanti tidur di depan saja di bale depan rasanya sudah cukup untuk saya tidur,” kata ku dengan nada malu bercampur rikuh. Karta melarangku tidur diluar, karena dingin dan kalau hujannya deras, tempat itu basah. “ Di dalam saja, kenapa kok mau tidur diluar, nanti masuk angin,” kata Karta. “Ya mas nya tidur di dalam saja,” tambah istrinya. Di ruang tengah yang merangkap ruang tamu ruangnya lapang, karena jadi satu dengan dapur. Selain seperangkat meja kursi tamu dari kayu yang sederhana, juga terdapat dipan bambu. Rumah Karta belum dialiri listri, sehingga ketika diluar mulai gelap, di rumah ini hanya diterangi oleh lampu minyak yang tidak seberapa cerah cahayanya. Untuk mengurangi rasa nggak enak hati, aku menarik uang 100 ribu lalu kuberikan kepada istri Karta. “ Mbak ini untuk beli makanan malam,” Istri Karta terkejut menerima uang ku. Dia terheran-heran dan mengatakan uang pemberianku itu terlalu banyak Aku memaksanya agar diterima saja, karena aku sudah merasa tertolong diberi penginapan. Pada masa itu uang 100 ribu memang sangat banyak, karena jika aku menginap di hotel kelas melati 3 mungkin tarifnya sekitar itu. Istrinya dengan muka berseri-seri masuk ke kamarnya. Pak Karta lalu mendekatiku dan membisikkan aku agar tidur di kamar saja, jangan di ruang tamu ini, karena udaranya dingin. Apakah tawaran Karta itu akibat kekuatan uang 100 ribu. Aku menduga kira-kira begitulah. Aku terkesiap mendengar tawaran Karta. Aku jadi makin rikuh, Sebelum aku menjawab, Karta bangun dari duduknya lalu jalan kebelakang. Aku tidak jelas bisa melihat apa yang dikerjakannya.. Beberapa saat kemudian dia keluar dan minta izin akan ke warung . Istrinya keluar dari kamar menemaniku. Dia dengan gaya genitnya mengatakan kepadaku agar aku tidur di kamar saja. “ Pak Karta tadi udah bilang ama mas kan,” katanya. Aku bingung mau jawab apa. Tadi tawaran Karta belum aku jawab, sekarang istrinya pula yang menimpali dengan nada yang sama. Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. “Emang masnya takut ya ama saya, saya nggak gigit kok, “ kata istri Karta dengan nada menggoda. Aku mencari kejelasan, apakah nanti aku tidak digrebek orang kampung kalau tidur di kamar “Ah masnya nggak usah takut, di sini mah udah biasa, “ kata istrinya. Aku membayangkan kejadian yang bakal terjadi nanti malam. Kemaluanku langsung mengembang memikirkan peluang yang ada di depanku. Aku sama sekali tidak keberatan meniduri istri si Karta. Malah jadi kayak pucuk dicinta ulam tiba. Sama sekali aku tidak menyangka begitu bebasnya kehidupan di desa yang jauh dari keramaian kota. Inilah mungkin makna yang terkandung di dalam pameo “goyang Karawang” Karta masuk membawa tentengan dua kantong plastik, dia lalu ke dapur diikuti istrinya. Tidak jelas kulihat apa saja yang dibelinya. Mereka berdua kelihatan sibuk. Aku bengong sendirian di ruang tamu sambil menghayal. Aku sempat tertidur di kursi entah berapa lama, sampai Karta menyapaku. Kami menyantap makanan malam dengan lauk, mi instan kuah dengan telur, telur dadar, sambal dan lalap timun. Nasi yang mengepul hangat, meski dengan lauk sederhana di cuaca yang masih hujan, rasanya nikmat . Kami makan bertiga lahap sekali. Selepas itu aku masih dibuatkan kopi panas. Kami ngobrol sebentar, lalu Karta pamit mau gabung sama teman-temanny di pos ronda. Tinggallah aku berdua dengan istri Karta. Dia lalu mengunci pintu dan membereskan meja makan. Sementara aku nggak tahu harus ngapain, kecuali duduk sambil ngrokok dan menghirup kopi. Istri Karta yang kemudian kutahu namanya Yati duduk menemaniku ngopi. “Mas udah berkeluarga,” tanyanya “Belum” jawabku. “Lho udah cukup umur, udah kerja, dan mas kan cukup ganteng, “ katanya rada menggoda. “ Belum ada yang mau mbak,” “Ah masak, sayang lho kan udah cukup umur, kalau di kampung mah udah punya anak banyak kali,” katanya. “ Saya belum berani mbak, takut nggak bisa ngurus,” kata ku berusaha mengelak. “ Bukannya istri yang ngurus suami, lagian mas nya sayang kan masak udah mateng gitu masih dibuat pipis saja,” katanya genit. Aku bingung sebentar, menerjemahkan apa yang dimaksud buat pipis. Yati ini berani amat menyinggung masalah yang pribadi. Aku tidak bisa menjawab, hanya senyum-senyum nggak jelas. Dia lalu mengalihkan pembicaraan soal perjalananku dan tujuannya. Aku bercerita panjang lebar. Dari dia kudapat banyak informasi mengenai situasi di desa ini. Mereka memang sedang kesulitan pangan, akibat musim kemarau yang panjang dan terbatasnya air irigasi. Yati mengaku tidak bisa setiap hari makan nasi. Sebagai penggantinya hanya makan singkong. Jadi singkong yang aku santap tadi sore itu sebenarnya adalah makan malam mereka. “Mas apa nggak cape dari Jakarta naik motor, jauh kan itu,” tanyanya. “ Ya lumayan sih, pegal juga,” “ Sini mas saya pijetin, “ kata Yati sambil berdiri dan mengambil posisi di belakangku. Aku tak mampu menolak, ketika tangannya sudah memijat pundakku. Nikmat sekali rasanya, entah karena pijatannya enak atau aku yang terlalu lelah seharian dari Jakarta. Aku memuji pijatannya, yang memang kurasa nikmat sekali. Dia lalu menawariku memijat seluruh badan. Aku dimintanya tidur telungkup di bale-bale di ruang tengah itu. Karena pijatannya nikmat, maka aku segera mengatur posisi tiduran sambil telungkup. Dia memintaku membuka baju karena akan diurut pakai minyak kelapa. Aku turuti saja kemauannya. Badanku terasa nikmat sekali, diurut Yati. Dia ternyata pintar memijat dan mengendorkan urat-uratku yang kaku karena terlalu lama naik motor. Badanku penuh dengan minyak kelapa. Tapi aku merasa lega. Yati menawarkan untuk sekalian mengurut bagian kakiku. Dia memintaku membuka celana jean. Aku agak jengah juga, sebab dibalik jeans ku hanya ada sepotong celana dalam yang tipis. Namun karena penerangannya yang remang-remang, aku sedikit punya keberanian. Aku melepas jeans, tinggal celana dalam saja. Urutan kaki memang nikmat, meski di beberapa bagian agak sakit juga. “ Mas ototnya pada kaku nih, udah lama ya nggak dipijet,” tanya Yati. “Saya jarang pijet mbak, abis nggak ada yang mijetin sih, “ kata ku menggoda. “Ala si masnya bisa aja, di Jakarta kan banyak tempat pijet,” katanya. Dia meminta aku berbalik tidur telentang. Pada posisi inilah aku tidak bisa menyembunyikan gundukan penisku yang sudah mengeras sejak tadi. Yati mulanya tenang-tenang saja dan tidak memperhatikan gundukanku. Ketika dia merambah ke bagian paha dia mulai berkomentar. “Wah burungnya si mas bangun ya, boleh nggak dipijet juga,” tanyanya. Aku bingung, masak kemaluan bisa dipijet. “ Emangnya si mbak bisa mijet burung,” tanyaku. “ Ah ya bisa dong, masak mijet badan bisa mijet gituan yang cuma sedikit nggak bisa,” katanya. “ Boleh deh coba, pengen tahu, enak nggak mbak,” tanyaku. “ Ya mesti dicoba baru tahu rasanya, celananya buka aja ya nggak usah malu lah orang nggak ada orang aja kok.,” katanya. Aku berlagak bodoh dan membiarkan dia melololoskan celana dalamku. Begitu celana terlepas, batang penisku langsung berdiri. “ Wah lumayan juga burungnya mas, bentuknya bagus ,” katanya sambil meraih penisku. Awalnya di bekap-bekap dan jarinya mengurut sekitar daerah kemaluanku. Yati termasuk ahli mengurut bagian ini. Aku terangsang hebat , kepala ku terasa penuh. “ Aduh mbak saya nggak tahan rasanya. “ Udah mas dilepas aja kalau mau keluar, jangan ditahan-tahan, “ katanya sambil mengocok batangku. Dalam waktu singat aku langsung ejakulasi banyak sekali. “ Mas maninya banyak amat sih, udah lama nih kelihatannya nggak dikeluarin ya,” katanya. Aku diam saja dan seluruh badanku terasa lemas. Namun badanku terasa risih karena penuh dengan baluran minyak kelapa. Yati menawarkan aku mandi di belakang. Aku memang berkeinginan mandi, segera kusambut tawarannya sambil menggoda. “ Mbak saya dimandiin dong, saya kan tidak bisa nggosok punggung saya,” kataku. “Ala simasnya genit juga, beres deh ntar Yati mandiin,” Dia segera berlalu kebelakang, mungkin mempersiapkan sumur untuk mandi. Agak lama juga dia di belakang sambil membawa penerangan lampu tempel. Dia kemudian memanggilku . Aku dengan hanya mengenakan celana dalam menuju kamar mandi. Di situ Yati sudah berganti pakaian, hanya menggunakan kain batik yang dililitkan ke tubuhnya seperti kemben. Aku disuruh jongkok dan seluruh badanku diguyur air dingin. Tangannya trampil sekali menyabuni seluruh tubuhku. Aku yang dalam keadaan telanjang seperti bayi dimandikan oleh Yati. “Mbak ngapain sih pakai kain segala, saya telanjang mbak juga telanjang dong biar imbang. Lagian sayang tuh kain basah nanti. “ Ih masnya genit nih ,” katanya. Dia lalu berbalik dan melepas kainnya. Di balik kain itu sudah tidak ada apa-apa lagi, sehingga Yati juga telanjang bulat, Dari belakang kuperhatikan pantatnya montok sekali bergumpal. Ketika dia berbalik, sepasang buah dada yang seperti membengkak menggantung kaku di dadanya. Dari putingnya kelihatan Yati belum pernah punya anak, karena putingnya masih kecil. Aku tidak bisa menahan nafsu segera kuraih kedua buah dadanya dan kuremas. Yati diam saja dan dia mendongakkan kepalanya sambil mendesis. Putingnya aku pelintir-pelintir membuat Yati semakin mendesis. Kupeluk badannya yang montok dan lehernya kuciumi lalu kedua putingnya aku hisap-hisap. Sementera itu penisku sudah bangun kembali menerjang-nerjang bagian kemaluan Yati.. Tangannya meraih kemaluanku dan dikocoknya pelan-pelan. Aku semakin bernafsu dan ingin segera menyarangkan penisku ke dalam vaginanya. Aku merendahkan badanku dan dia kusenderkan dia ke dinding. Kuarahkan penisku ke gerbang vaginanya lalu pelan-pelan aku tekan sampai tenggelam seluruhnya ke dalam saluran vaginanya. Rasanya nikmat sekali dan Yati memelukku erat sekali. Dia mulai merintih, ini membuatku semangat memompa semakin cepat. Yati mengangkat kaki kirinya dan dilingkarkan ke pinggangku. Pada posisi ini aku makin leluasa memompa vaginanya. “ Mas punyanya enak banget mas, ngganjel banget rasanya memekku penuh banget, aduh mas terus mas enak banget,” kata Yati sambil terus merintih yang kadang-kadang nggak jelas ucapannya. Aku mampu bertahan lama karena di ronde kedua biasanya aku bisa bertahan agak lama.. Aku terus memompa dan mulutku menciumi leher dan telinganya. Yati lalu mengerang-negerang dan memelukku erat sekali. Dia mencapai puncak dan kemaluannya terasa berkontraksi. Gerakanku ditahannya dengan dia memelukku erat sekali. “Aduh mas aku puas panget, aku nggak pernah ngrasain main kayak gini enaknya, mas mainnya pinter, sampai aku bisa lemes banget. “ katanya. Sementara itu aku sedang tanggung, lalu dia kuminta membungkuk membelakangiku. Pantatnya yang bahenol sunguh sangat mempesona , batang penis ku arahkan masuk ke vaginanya dari bagian belakang. Dengan mudah seluruh batang penisku tenggelam. Aku kembali menggenjot dengan menabrak-nabrakkan bongkahan pantatnya yang tebal. Pemandangan pantat yang bergetar setiap kali kutabrak membuatku makin bernafsu. Aku terus mempercepat pompaan hingga kemaluan kami berbunyi. Yati kelihatannya naik lagi nafsunya, dia memutar-mutar pantatnya sehingga batang penisku seperti diremas . Aku memperpelan gerakanku menyesuaikan dengan putaran pantatnya yang sangat mengagumkan. Aku mulai merasa akan mencapai ejakulasi maka hunjamanku kubenamkan dalam dalam dengan gerakan keras. Yati juga mulai merintih. Dalam waktu tidak berapa lama aku menembakkan spermaku ke dalam rahimnya. Kontraksi penisku nampaknya menambah rangsangan di vagina Yati sehingga dia menggerakkan pantatnya tidak beraturan sampai kemudian tangannya menarik badanku rapat ke tubuhnya. Dia menjerit keras sekali. Vaginanya kembali berdenyut dan kali ini lebih lama dari yang pertama tadi. Yati kembali memujiku, katanya permainanku sungguh luar biasa, karena dia bisa sampai merasakan kenikmatan dua kali. Yang terakhir kata dia nikmat sekali sampai tubuhnya hampir-hampir tidak kuat berdiri. Kami mandi bersama dan saling menyabuni. Meski penerangan remang-remang tapi, aku masih bisa melihat cukup jelas tubuh Yati. Susunya cukup besar, rambut bawahnya masih jarang. Dan yang kurasa agak jarang ditemukan di kampung-kampung adalah bentuk tubuh Yati yang berpinggang ramping. Padahal tubuhnya termasuk subur, biasanya cewek yang subur badannya perutnya ikut membuncit. Yati tidak demikian. Air yang tadi tidak terasa dingin, setelah mengalami ejakulasi, rasanya air dingin sekali. Aku agak menggigil. Setelah mengeringkan badan dan kami berpakaian lagi. Aku kembali ke ruang tengah dan menghisap rokok. Nikmatnya menghisap rokok setelah pertempuran rasanya tidak ada bandingannya. Setelah sekitar setengah jam, sebatang 234 habis terbakar. Yati mengajakku masuk ke kamarnya. Aku digandengnya memasuki kamar tidur. Kamarnya tidak luas, Tempat tidur berupa dua kasur yang dihamparkan di lantai. Aku tidak membawa persedian baju tidur, sehingga aku hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek sebagai pakaian tidurku. Udara di desa setelah hujan cukup dingin, sehingga aku terpaksa mengenakan sarung yang kubawa. Kami tidak langsung tidur. Yati banyak bercerita mengenai desanya termasuk hubungannya dengan Karta. Menurut dia, Karta kurang mampu di atas ranjang, karena dia menderita sakit gula. “ Barangnya kalau berdiri nggak bisa keras, itu pun kalau main cuma sebentar,” kata Yati buka kartu suaminya. Dia mengaku bisa berhubungan dengan suaminya sebulan 2 kali sudah cukup bagus, sebab kadang-kadang cuma sekali. Aku jadi penasaran, apakah suaminya memberi kesempatan tidur dengan istrinya karena memang kerelaan suami, atau karena sebab lain. “ Di sini mah biasa mas, kalau ada tamu yang rasanya pantas boleh tidur sama istrinya, sama anaknya juga biasa pak,” kata Yati tenang.. Aku tertarik ingin tahu lebih jauh mengenai kebiasaan orang di kampung ini, tetapi Yati tidak bisa menceritakan . Ini mungkin karena pendidikannya yang cuma tamat SD. Yati tidur memelukku. Tangannya mengelus-elus dadaku dan sesekali menciumi pipiku. Dia memperlakukan ku mesra sekali. Aku jadi sulit tidur, karena terbiasa tidur sendiri, maka jika tidur dipeluk begini rasanya jadi gerah. Tapi aku tidak sampai hati menolak pelukannya, sehingga kubiarkan saja dia memeluk erat tubuhku. Nafasnya kuperhatikan makin memburu. Aku menduga dia mulai terbakar nafsu birahinya. Tangannya tidak lagi mengelus dadaku, tetapi sudah mulai jahil meremas-remas batang penisku. Batang ku yang tadinya tidur tenang, diremas-remas Yati jadi bangun lagi dan akhirnya mengeras. Kepalang tanggung, Yati kuminta menghisap kemaluanku. Dia menolak, karena belum pernah melakukan seperti itu. “ Mas masa itunya di masukin mulut, jijik ah,” katanya . Aku maklum, pengetahuannya mengenai oral, belum pernah dialami. Aku mencumbuinya dan satu persatu ku buka bajunya sampai dia akhirnya telanjang bulat di balik sarung. Kedua payudaranya yang ranum kembali menjadi sasaranku. Dia menggelinjang sambil sesekali mendesis ketika putingnya aku hisap dan jilat. Kutarik sarungnya ke bawah dan bersamaan dengan itu aku menciumi perutnya terus ke bawah menuju segitiga kemaluannya. Yati menutup kemaluannya. Malu katanya. Aku menyingkirkan tangannya pelan-pelan. “ Ah mas jangan diciumi memek Yati, jijik mas” katanya sambil terengah-engah. Aku tidak perduli dan sarungnya sudah lepas dari badannya. Badan Yati telentang bugil. Aku mengatur posisi merangkak di antara kedua kakinya. Aku kembali menyerang dengan ciuman ke arah kemaluannya. Yati masih menahan kepalaku, tetapi tangannya tidak sungguh-sungguh melarangku. Lidahku berhasil masuk diantara celah kemaluannya dan menemukan clitoris nya. Dia terkejut dan menggelinjang ketika sapuan lidahku mengenai ujung clitorisnya. Geli katanya. Aku terus berusaha menyapukan lidahku di sekitar clitorisnya. Kemaluan Yati tidak berbau sama sekali. Ini menandakan dia pandai merawat bagian vitalnya. Aku merasa cairan vagina Yati sudah mulai melumasi dinding-dinding vaginanya yang merupakan tanda siap di terobos. Jilatanku kembali mengarah ke clitorisnya yang sudah mulai muncul dari lipatan kulit penutupnya. Yati mengerang dan pantatnya bergoyang terus. Aku terpaksa menekan kedua pahanya agar tidak bergerak, sebab gerakannya menyulitkan aku menjilat clitorisnya. Kepalanya bergerak seperti orang menggelengkan kepala dan kedua tangannya menarik-narik sprei. Dia mengerang dan bergelinjang jika ujung clitorisnya terkena lidahku. Clitorisnya makin menonjol dan sapuan lidahku semakin gencar ke satu titik itu. “ Aduh enak sekali mas, mas pinter banget sih,” dia terus mendesis sambil bergumam. Tiba – tiba diam lalu menjerit tertahan. Aku merasa kemaluannya berdenyut. Yati mencapai orgasme. Aku lalu duduk diantara kedua kakinya dan mencolokkan jari tengah ku ke dalam vaginanya. Jariku meraba dinding atas liang vaginanya. Ada bagian yang jika tersentuh dia menggelinjang. Aku memusatkan sentuhan ke bagian itu dengan gerakan halus dan pelan sekali. Yati seperti kesetanan mengingau dan mendesis. Tiba-tiba diraihnya bantal dan tutupkan ke mukanya. Dia menjerit di balik bantal itu bersamaan dengan kontraksi panjang di dalam vaginanya. Kemaluan Yati banjir, sampai cairannya meleleh keluar. Setelah orgasme dia membuka bantal yang menutuupi mukanya. “ Aduh mas lemes banget, itu tadi enak banget kayak yang dikamar mandi tadi,” kata Yati. Aku pindah duduk di samping Yati yang masih tergolek, sementara penisku masih terus mengacung. Yati kuminta kembali mengoralku. Kini dia tidak lagi menolak, hanya dia masih ragu untuk memulainya. Aku katakan, akan mengajari bagaimana cara yang benar menjilat batangku. Di raihnya batangku . Aku tidur telentang dan Yati merangkak di atas ku. Mula-mula dia hanya menciumi batangku, lalu mulai berani menjilat. Setelah mulai terbiasa dia pelan-pelan mengulum batangku. Untuk memberinya semangat aku mendesis-desis dan memuji enaknya hisapannya. Dia terpengaruh dengan eranganku, sehingga makin semangat menghisapnya. Batangku hampir sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya dan di hisapnya. Isapannya terlalu kuat sehingga aku merasa-seolah-olah maniku dipaksa keluar. Yati cepat sekali belajar dan sekarang dia sudah mahir, Dia juga pandai menjilat buah zakarku. Sekitar 15 menit dia mengeluh mulutnya pegal, dan minta menyudahi oral. Aku mengangkat kepalanya dan meminta dia memasukkan penisku ke vaginanya. Yati menduduki kemaluanku dan tangannya mememandu penisku masuk ke vaginanya. Setelah masuk seluruhnya pinggulnya berputar-putar di atas kemaluanku. Aku merasa penisku seperti dilumat vaginanya. Bukan aku saja yang merasakan nikmat, tetapi Yati juga mulai merasakan enaknya batangku mengaduk-aduk vaginanya. Gerakannya makin bersemangat dan dia melakukannya sambil mengerang. Gerakannya jadi makin gak karuan sampai akhirnya dia jatuh menelungkup di atasku. Aku merasa penisku diremas-remas oleh kemaluannya. Dia kembali mencapai orgasme. Aku mendorongnya ke samping dan mengambil posisi menindihnya. Penisku kembali menerjang masuk ke dalam vaginanya dan akau melakukan kocokan pelan sambil mencari posisi yang paling nikmat. Bukan hanya nikmat bagiku, tetapi juga nikmatnya Yati. Pada satu posisi , Yati mendesis-desis. Pada posisi itulah aku terus bertahan sampai menjelang ejakulasiku. Aku mempercepat gerakanku dan Yati makin menggila menggerakkan pinggulnya. Dia menarikku dengan pelukan yang erat sekali dan kakinya merangkul pinggulku. Vaginanya berdenyut-denyut. Tapi aku terus berusaha menghunjam-hunjam ke vaginanya karena aku juga sudah hampir sampai ke puncak. Aku tekan dalam-dalam penisku ke vaginanya dan menyemburkan sisa sperma yang masih ada ke dalam rahimnya. Badanku terasa lelah sekali. Kuambil sarung dan aku dengan bersarung lalu jatuh tertidur. Aku terbangun, jam di tanganku menunjukkan jam 6 pagi. Sinar matahari kelihatan menerobos di celah-celah dinding bambu rumah. Kandung kemihku rasanya penuh sehingga dengan menggunakan sarung dan kaus aku bangun menuju kamar mandi. Ketika meliwati ruang tengah kulihat Karta sedang tertidur di bale-bale . Buset aku meniduri istri orang ditunggui suaminya. Selepas membuang hajat kecil, aku kembali ke kamar untuk mengambil baju ganti. Aku mau mandi . Ketika sedang mencari-cari baju di dalam tas ku Yati bangun. Dengan hanya berkemben sarung dia tergopoh-gopoh menuju kamar mandi. Aku berpapasan dengan Yati di pintu kamar mandi. Aku dengan tenang mulai memompa air ke dalam ember. Setelah ember penuh dan bersiap mandi dengan membuka semua baju, pintu diketok Yati. Dia katanya mau ikut mandi. Kami akhirnya mandi bersama-sama. Sementara suaminya sedang ngorok di ruang tengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s