mbak limah ,janda kesepian

Standar

Aku melihat jam di tanganku.
Masih lama rupanya. Kira-kira
setengah jam lagi waktu kuliah
habis. Siang tadi kakak iparku
nelepon, memintaku datang ke
rumahnya setelah kuliah. Aku
bertanya-tanya, karena
biasanya hanya abangku saja
yang menelponku, menanyakan
sesuatu atau memintaku untuk
menjaga rumahnya jika dia ada
urusan keluar kota.
Rintik-rintik hujan mulai turun
semakin lebat. Mbak Limah yang
bekerja di rumah abangku ini
bergegas ke halaman belakang
untuk mengambil jemuran.
Kemudian,“Den Mad!”, teriaknya
keras dari belakang rumah. Aku
berlari menuju arah suaranya
dan melihat Mbak Limah
terduduk di tepi jemuran. Kain
jemuran berhamburan di
sekitarnya.
“Den Mad, tolong Mbak Limah
bawakan kain ini masuk”,
pintanya sambil menyeringai
mungkin menahan sakit.
“Mbak tadi tergelincir”,
sambungnya.
Aku hanya mengangguk sambil
mengambil kain yang berserakan
lalu sebelah tanganku coba
membantu Mbak Limah berdiri.
“Sebentar Mbak. Saya bawa
masuk dulu kain ini”, kataku
sembari membantunya memegang
kain yang berada di tangan
Mbak Limah. Aku bergegas masuk
ke dalam rumah. Kain jemuran
kuletakkan di atas kasur, di
kamar Mbak Limah. Ketika aku
menghampiri Mbak Limah lagi, dia
sudah separuh berdiri dan
mencoba berjalan terhuyung-
huyung. Hujan semakin lebat
seakan dicurahkan semuanya
dari langit.
Aku menuntun Mbak Limah masuk
ke kamarnya dan mendudukkan
di kursi. Dadaku berdetak
kencang ketika tanganku
tersentuh buah dada Mbak
Limah. Terasa kenyal sehingga
membuat darah mudaku tersirap
naik. Kuakui walau dalam umur
awal 30-an ini Mbak Limah tidak
kalah menariknya jika
dibandingkan dengan kakak
iparku yang berusia 25 tahun.
Kulitnya kuning langsat dengan
potongan badannya yang masih
menarik perhatian lelaki. Tidak
heran, pernah Mbak Limah
kepergok oleh abangku
bermesraan dengan laki-laki lain.
“Tolong ambilkan Mbak handuk”,
pinta Mbak Limah ketika aku
masih termangu-mangu.
Aku menuju ke lemari pakaian
lalu mengeluarkan handuk dan
kuberikan kepadanya.
“Terima kasih Den Mad”, katanya
dan aku cuma mengangguk-
angguk saja.
Kasihan Mbak Limah, dia adalah
wanita yang paling lemah lembut.
Suaranya halus dan lembut.
Bibirnya senantiasa terukir
senyum, walaupun dia tidak
tersenyum. Rajin dan tidak
pernah sombong atau
membantah. Dianggapnya rumah
abangku seperti rumah
keluarganya sendiri. Tak pernah
ada yang menyuruhnya karena
dia tahu tanggung jawabnya.
Kadang-kadang saya memberinya
sedikit uang, bila saya datang ke
sana. Bukan karena apa, sebab
dia mempunyai sifat yang bisa
membuat orang sayang
kepadanya. Abangku tidak
pernah memarahinya. Gajinya
setiap bulan disimpan di bank.
Pakaiannya dibelikan oleh kakak
iparku hampir setiap bulan.
Memang dia cantik, dan tak tahu
apa sebabnya hingga suaminya
menceraikannya. Kabarnya dia
benci karena suaminya main
serong. Hampir 6 tahun lebih dia
menjanda setelah menikah hanya
3 bulan. Sekarang dia baru
berusia 33 tahun, masih muda.
Kalau masalah kecantikan,
memang kulitnya putih. Dia
keturunan Cina. Rambutnya
mengurai lurus hingga ke
pinggang. Dibandingkan dengan
kakak iparku, masing-masing ada
kelebihannya. Kelebihan Mbak
Limah ialah sikapnya kepada
semua orang. Budi bahasanya
halus dan sopan.
Mbak Limah berdiri lalu mencoba
berjalan menuju ke kamar mandi.
Melihat keadaannya masih
terhuyung-huyung, dengan
cepat kupegang tangannya
untuk membantu. Sebelah
tanganku memegang pinggang
Mbak Limah. Kutuntun menuju ke
pintu kamar mandi. Terasa
sayang untuk kulepaskan
peganganku, sebelah lagi
tanganku melekat di
pinggangnya.
Mbak Limah menghadap ke diriku
saat kutatap wajahnya. Mata
kami saling bertatapan. Kulihat
Mbak Limah sepertinya senang
dan menyukai apa yang
kulakukan. Tanganku jadi lebih
berani mengusap-usap lengannya
lalu ke dadanya. Kuusap dadanya
yang kenyal menegang dengan
puting yang mulai mengeras.
Kudekatkan mulutku untuk
mencium pipinya. Dia berpaling
menyamping, lalu kutarik lagi
pipinya. Mulut kamipun bertemu.
Aku mencium bibirnya. Inilah
pertama kalinya aku
melakukannya kepada seorang
wanita.
Erangan halus keluar dari mulut
Mbak Limah. Ketika kedua
tanganku meremas punggungnya
dan lidahku mulai menjalari leher
Mbak Limah. Ini semua akibat film
BF dari CD-Rom yang sering
kutonton dari rumah teman.
Mbak Limah bersandar ke
dinding, tetapi tidak meronta.
Sementara tanganku menyusup
masuk ke dalam bajunya, mulut
dan lidahnya kukecup. Kuhisap
dan kugelitik langit-langit
mulutnya. Kancing BH-nya
kulepaskan. Tanganku bergerak
bebas mengusap buah dadanya.
Putingnya kupegang dengan
lembut. Kami sama-sama hanyut
dibuai kenikmatan walaupun kami
masih berdiri bersandar di
dinding.
Kami terangsang tak karuan.
Nafas kami semakin memburu.
Aku merasa tubuh Mbak Limah
menyandar ke dadaku. Dia
sepertinya pasrah. Baju daster
Mbak Limah kubuka. Di dalam
cahaya remang dan hujan lebat
itu, kutatap wajahnya. Matanya
terpejam. Daging kenyal yang
selama ini terbungkus rapi
menghiasi dadanya kuremas
perlahan-lahan.
Bibirku mengecup puting buah
dadanya secara perlahan.
Kuhisap puting yang mengeras
itu hingga memerah. Mbak Limah
semakin gelisah dan nafasnya
sudah tidak teratur lagi.
Tangannya liar menarik-narik
rambutku, sedangkan aku
tenggelam di celah buah dadanya
yang membusung. Mulutnya
mendesah-desah,“Ssshh…, sshh!”.
Puting payudaranya yang
merekah itu kujilat berulangkali
sambil kugigit perlahan-lahan.
Kulepaskan ikatan kain di
pinggangnya. Lidahku kini
bermain di pusar Mbak Limah,
sambil tanganku mulai mengusap-
usap pahanya. Ketika kulepaskan
ikatan kainnya, tangan Mbak
Limah semakin kuat menarik
rambutku.
“Den Maddd…, Den Mad”, suara
Mbak Limah memanggilku
perlahan. Aku terus melakukan
usapanku. Nafasnya terengah-
engah ketika celana dalamnya
kutarik ke bawah. Tanganku
mulai menyentuh daerah
kemaluannya. Rambut halus di
sekitar kemaluannya kuusap-
usap perlahan.
Ketika lidahku baru menyentuh
kemaluannya, Mbak Limah
menarikku berdiri. Pandangan
matanya terlihat sayu bagai
menyatakan sesuatu.
Pandangannya ditujukan ke
tempat tidurnya. Aku segera
mengerti maksud Mbak Limah
seraya menuntun Mbak Limah
menuju tempat tidur. Bau
kemaluannya merangsang sekali.
Dengan satu bau khas yang
sukar diceritakan.
“Den Maddd…”, bisiknya perlahan
di telingaku. Aku terdiam sambil
mengikuti apa yang kuinginkan.
Mbak Limah sepertinya
membiarkan saja. Kami benar-
benar tenggelam. Mbak Limah kini
kutelanjangkan. Tubuhnya
berbaring telentang sambil
kakinya menyentuh lantai.
Seluruh tubuhnya cukup
menggiurkan. Mukanya berpaling
ke sebelah kiri. Matanya
terpejam. Tangannya mendekap
kain sprei. Buah dadanya
membusung seperti minta
disentuh.
Puting susunya terlihat berair
karena liur hisapanku tadi.
Perutnya mulus dan pusarnya
cukup indah. Kulihat tidak ada
lipatan dan lemak seperti perut
wanita yang telah melahirkan.
Memang Mbak Limah tidak
memiliki anak karena dia bercerai
setelah menikah 3 bulan. Kakinya
merapat. Karena itu aku tidak
dapat melihat seluruh
kemaluannya. Cuma sekumpulan
rambut yang lebat halus
menghiasi bagian bawah.
Kemudian, tanganku terus
membuka kancing bajuku satu-
persatu. ritsluiting jeans-ku
kuturunkan. Aku telanjang bulat
di hadapan Mbak Limah. Penisku
berdiri tegang melihat
kecantikan sosok tubuh Mbak
Limah. Buah dada yang
membusung dihiasi puting kecil
dan daerah di bulatan putingnya
kemerah-merahan. Indah sekali
kupandang di celah pahanya.
Mbak Limah telentang kaku.
Tidak bergerak. Cuma nafasnya
saja turun naik.
Lalu akupun duduk di pinggir
kasur sambil mendekap tubuh
Mbak Limah. Sungguh lembut
tubuh mungil Mbak Limah.
Kupeluk dengan gemas sambil
kulumat mesra bibir ranumnya.
Tanganku meraba seluruh
tubuhnya. Sambil memegang
puting susunya, kuremas-remas
buah dada yang kenyal itu.
Kuusap-usap dan kuremas-
remas. Nafsuku terangsang
semakin hebat. Penisku
menyentuh pinggang Mbak Limah.
Kudekatkan penisku ke tangan
Mbak Limah. Digenggamnya
penisku erat-erat lalu diusap-
usapnya.
Memang Mbak Limah tahu apa
yang harus dilakukan. Maklumlah
dia pernah menikah. Dibandingkan
denganku, aku cuma tahu teori
dengan melihat film BF, itu saja.
Tanganku terus mengusap
perutnya hingga ke celah
selangkangannya. Terasa
berlendir basah di kemaluannya.
Aku beralih dengan posisi 69.
Rupanya Mbak Limah mengerti
keinginanku. Lalu dipegangnya
penisku yang sudah tegang dan
dimasukkannya ke dalam
mulutnya. Mataku terpejam-
pejam ketika lidah Mbak Limah
melumat kepala penisku dengan
lembut. Penisku dikulum sampai
ke pangkalnya. Sukar untuk
dibayangkan betapa nikmatnya
diriku. Bibir Mbak Limah terasa
menarik-narik batang penisku.
Tidak tahan diperlakukan begitu
aku lalu mengerang menahan
nikmat.
Kubuka lebar-lebar paha Mbak
Limah sambil mencari liang
vaginanya. Kusibakkan vaginanya
yang telah basah itu. Kujulurkan
lidahku sambil memegang
clitorisnya. Mbak Limah
mendesah. Kujilat-jilat dengan
lidahku. Kulumat dengan mulutku.
Liang kemaluan Mbak Limah
semakin memerah. Bau
kemaluannya semakin kuat. Aku
jadi semakin terangsang.
Seketika kulihat air berwarna
putih keluar dari lubang
vaginanya. Tentu Mbak Limah
sudah cukup terangsang, pikirku.
Aku kembali pada posisi semula.
Tubuh kami berhadapan.
Tangannya menarik tubuhku
untuk rebah bersama. Buah
dadanya tertindih oleh dadaku.
Mbak Limah memperbaiki
posisinya ketika tanganku
mencoba mengusap-usap pangkal
pahanya. Kedua Kaki Mbak Limah
mulai membuka sedikit ketika
jariku menyentuh kemaluannya.
Lidahku mulai turun ke dadanya.
Putingnya kuhisap sedikit kasar.
Punggung Mbak Limah
terangkat-angkat ketika lidahku
mengitari perutnya.
Akhirnya jilatanku sampai ke
celah pahanya. Mbak Limah
semakin membuka pahanya
ketika aku menjilat clitorisnya,
kulihat Mbak Limah sudah tidak
bergerak lagi. Kakinya kadang-
kadang menjepit kepalaku
sedangkan lidahku sibuk mencari
tempat-tempat yang bisa
mendatangkan kenikmatan
baginya.
Erangan Mbak Limah semakin
kuat dan nafasnya pun yang
terus mendesah. Rambutku di
tarik-tariknya dengan mata
terpejam menahan kenikmatan.
Aku bertanya,“Gimana Mbak
rasanya?”, suaraku lembut dan
sedikit manja. Dia tidak
menjawab. Dia hanya membuka
matanya sedikit sambil menarik
napas panjang. Aku mengerti. Itu
bertanda dia setuju. Tanpa
disuruh, aku mengarahkan
penisku ke arah lubang
vaginanya yang kini telah
terbuka lebar. Lendir dan liurku
telah banjir di gerbang
vaginanya.
Kugesek-gesekan kepala penisku
di cairan yang membanjir itu.
Perlahan-lahan kutekan ke
dalam. Tekanan penisku memang
agak sedikit susah. Terasa
sempit. Kulihat Mbak Limah
menggelinjang seperti kesakitan.
“Pelan-pelan Den Madd!”, Mbak
Limah berbicara dengan nafas
sesak. Aku sekarang mengerti.
Kemaluan Mbak Limah sudah
sempit lagi setelah 6 tahun tidak
disetubuhi, walaupun dia sudah
tidak perawan lagi. Memang aku
belum berpengalaman kerena ini
merupakan pertama kalinya aku
menyetubuhi seorang wanita
walau umurku sudah matang.
Kutekan lagi. Kumasukkan
penisku perlahan-lahan. Kutekan
punggungku ke depan. sangat
hati-hati. Terasa memang sempit.
Lalu Mbak Limah memegang
lenganku erat-erat. Mulutnya
meringis seperti orang sedang
menggigit tulang. Hanya sebagian
penisku yang masuk. Kubiarkan
sebentar penisku berhenti,
terdiam. Mbak Limah juga
terdiam. Tenang.
Sementara itu, kupeluk tubuh
Mbak Limah dengan gemas sambil
memainkan buah dadanya,
menjilat, mengusap dan
menggigit-gigit lembut. Mulutnya
kukecup sambil lidahnya
kumainkan. Kami memang sudah
sangat bernafsu dan terangsang.
Lalu kemudian aku bertanya
dengan suara lembut,“Mau
diteruskan…?”. Mbak Limah
membuka matanya. Di bibirnya
terlihat senyum manis yang
menggairahkan.
Kutekan penisku ke dalam.
Kemudian kutarik ke belakang
perlahan-lahan. Kuhentakkan
perlahan-lahan. Memang sempit
kemaluan Mbak Limah,
mencengkram seluruh batang
penisku. Penisku terasa seperti
tersedot di dalam vagina Mbak
Limah. Kami makin terangsang!
Penisku mulai memasuki kemaluan
Mbak Limah lebih lancar. Terasa
hangatnya sungguh
menggairahkan. Mata Mbak Limah
terbuka menatapku dengan
pandangan yang sayu ketika
penisku mulai kukeluar-
masukkan. Bibirnya dicibirkan
rapat-rapat seperti tidak sabar
menunggu tindakanku
selanjutnya.
Sedikit demi sedikit penisku
masuk sampai ke pangkalnya.
Mbak Limah mendesah dan
mengerang seiring dengan
keluar-masuknya penisku di
kemaluannya. Kadang-kadang
punggung Mbak Limah
terangkat-angkat menyambut
penisku yang sudah melekat di
kemaluannya.
Berpuluh-puluh kali kumaju-
mundurkan penisku seiring
dengan nafas kami yang tidak
teratur lagi. Suatu ketika aku
merasakan badan Mbak Limah
mengejang dengan mata yang
tertutup rapat. Tangannya
memeluk erat-erat pinggangku.
Punggungnya terangkat tinggi
dan satu keluhan berat keluar
dari mulutnya secara pelan.
Denyutan di kemaluannya terasa
kuat seakan melumatkan penisku
yang tertanam di dalamnya.
Goyanganku semakin kuat. Kasur
Mbak Limah bergoyang
mengeluarkan bunyi berdecit-
decit. Leher Mbak Limah
kurengkuh erat sambil badanku
rapat menindih badannya. Ketika
itu seolah-olah aku merasakan
ada denyutan yang menandakan
air maniku akan keluar. Denyutan
yang semakin keras membuat
penisku semakin menegang
keras. Mbak Limah
mengimbanginya dengan
menggoyangkan pinggulnya.
Goyanganku semakin kencang.
Kemaluan Mbak Limah semakin
keras menjepit penisku.
Kurangkul tubuhnya kuat-kuat.
Dia diam saja. Bersandar pada
tubuhku, Mbak Limah lunglai
seperti tidak bertenaga.
Kugoyang terus hingga tubuh
Mbak Limah seperti terguncang-
guncang. Dia membiarkan saja
perlakuanku itu. Nafasnya
semakin kencang.
Dalam keadaan sangat
menggairahkan, akhirnya aku
sampai ke puncak. Air maniku
muncrat ke dalam kemaluan
Mbak Limah. Bergetar badanku
saat maniku muncrat. Mbak
Limah mengait pahaku dengan
kakinya. Matanya terbuka lebar
memandangku. Mukanya serius.
Bibir dan giginya dicibirkan.
Nafasnya terengah-engah. Dia
mengerang agak kuat.
Waktu aku memuntahkan lahar
maniku, tusukanku dengan kuat
menghunjam masuk ke dalam.
Kulihat Mbak Limah menggelepar-
gelepar. Dadanya terangkat dan
kepalanya mendongak ke
belakang. Aku lupa segala-
galanya. Untuk beberapa saat
kami merasakan kenikmatan itu.
Beberapa tusukan tadi memang
membuat kami sampai ke puncak
bersama-sama. Memang hebat.
Sungguh puas.
Memang inilah pertama kalinya
aku melakukan senggama. Mbak
Limah lah wanita pertama yang
mendapatkan air perjakaku.
Walaupun dia seorang janda,
bagiku dia adalah wanita yang
sangat cantik. Waktu kami
melakukan senggama tadi, kami
berkhayal entah kemana. Mbak
Limah memang hebat dalam
permainannya. Sebagai seorang
yang tidak pernah merasakan
kenikmatan persetubuhan,
bagiku Mbak Limah betul-betul
memberiku surga dunia.
Aku terbaring lemas di sisi Mbak
Limah. Mataku terpejam rapat
seolah tidak ada tenaga untuk
membukanya. Dalam hati aku
puas karena dapat mengimbangi
permainan ranjang Mbak Limah.
Kulihat Mbak Limah tertidur di
sebelahku. Kejadian yang tidak
pernah kuimpikan, terjadi tanpa
dapat dielakkan. Mbak Limah juga
telentang dengan mata tertutup
seperti kelelahan, mungkin lelah
setelah dapat menghilangkan
keinginan batinnya sejak
menjanda 6 tahun yang lalu.
Kami masih berpelukan. Kemudian
Mbak Limah terasa seperti
mengusap mukaku. Kubuka
mataku. Dia tersenyum. Aku
tersenyum. Seolah-olah kami
tidak merasa aneh berpelukan
tanpa sehelai benang pun di
tubuh kami. Dia mencium bibirku.
Dia berbisik ketelingaku, “Terima
kasih ya Den Mad. Mbak…” Belum
sempat dia menghabiskan kata-
katanya, aku bertanya,“Mbak
puas…?”. Dia tersenyum dan
mengangguk. “Dua kali!”,
jawabnya ringkas.
“Den Mad kamu memang hebat,
penismu juga besar! Panjang!”,
katanya.
Sementara itu ia mengocokkan
batang penisku. Suaranya
membangkitkan gairahku.
“Mbak suka?”, tanyaku. Dia
tersenyum. Dia mengangguk
tanda suka. Saat itu juga
tanganku memegang buah
dadanya. Tangannya mengocok
terus penisku. Penisku tegang
lagi. Kami jadi terangsang lagi.
“Mbak mau lagi?”, tanyaku
dengan suara manja. Dia
tersenyum manis. Apa yang
kuimpikan kini benar-benar
menjadi kenyataan. Perlahan-
lahan kubuka selimutnya. Kulihat
kaki Mbak Limah sudah
mengejang. Sedikit demi sedikit
terus kutarik selimutnya ke
bawah. Segunduk daging mulai
terlihat. Ufff…, detak jantungku
kembali berdegup kencang.
Kunikmati kembali tubuh Mbak
Limah tanpa perlawanan.
Gundukan bukit kecil yang bersih,
dengan bulu-bulu tipis yang mulai
tumbuh di sekelilingnya, tampak
berkilat di depanku.
Kurentangkan kedua kakinya
hingga terlihat sebuah celah kecil
di balik gundukan bukit Mbak
Limah. Kedua belahan bibir mungil
kemaluannya kubuka. Melalui
celah itu kulihat semua rahasia di
dalamnya. Aku menelan air liurku
sendiri sambil melihat kenikmatan
yang telah menanti. Kudekatkan
kepalaku untuk meneliti
pemandangan yang lebih jelas.
Memang indah membangkitkan
birahi. Tak mampu aku menahan
ledakan birahi yang menghambat
nafasku. Segera kudekatkan
mulutku sambil mengecup bibir
kemaluan Mbak Limah dengan
bibir dan lidahku.
Rakus sekali lidahku menjilati
setiap bagian kemaluan Mbak
Limah. Terasa seperti tak ingin
aku menyia-nyiakan kesempatan
yang dihidangkannya. Setiap kali
lidahku menekan keras ke bagian
daging kecil yang menonjol di
mulut vaginanya, Mbak Limah
mendesis dan mendesah
keenakan. Lidah dan bibirku
menjilat dan mengecup perlahan.
Beberapa kali kulihat Mbak Limah
mengejangkan kakinya.
Aku sangat menikmati bau khas
dari liang kemaluan Mbak Limah
yang memenuhi relung hidungku.
Membuat lidahku bergerak
semakin menggila. Kutekan
lidahku ke lubang kemaluan Mbak
Limah yang kini sedikit terbuka.
Rasanya ingin kumasukkan lebih
dalam lagi, tapi tidak bisa.
Mungkin karena lidahku kurang
keras. Tetapi, kelunakan lidahku
itu membuat Mbak Limah
beberapa kali mengerang karena
nikmat.
Dalam keadaan sudah
terangsang, kutarik tubuh Mbak
Limah ke posisi menungging. Ia
menuruti permintaanku dan
bertanya dengan nada manja.
“Den Mad mau diapakan badan
Mbak?”, bisiknya.
Aku rasa dia tak pernah
diperlakukan seperti ini oleh
suaminya dulu. Aku diam saja.
Kuatur posisinya. Tangannya
meremas sprei hingga kusut. Air
mani Mbak Limah sudah
membasahi kemaluannya. Kubuka
pintu kemaluannya. Kulihat dan
perhatikan dengan seksama.
Memang aku tidak pernah
melihat kemaluan wanita serapat
itu. Kucium kemaluan Mbak Limah.
Bau anyir dan bau air maniku
bercampur dengan bau asli
vagina Mbak Limah yang
merangsang. Bau vagina seorang
wanita!
Jelas semua! Bulu kemaluan Mbak
Limah yang lembab dan melekat
berserakan di sekitar vaginanya.
Kusibakkan sedikit untuk
memberi ruang. Kumasukkan jari
telunjukku ke dalam lubang
vaginanya. Kumain-mainkan di
dalamnya. Kulihat Mbak Limah
menggoyang punggungnya.
Kucium dan kugigit daging kenyal
punggungnya yang putih bersih
itu. Kemudan kurangkul
pinggangnya. Kumasukkan
penisku ke liang vaginanya.
Pinggang Mbak Limah seperti
terhentak.
Perlahan-lahan kutusukkan
penisku yang besar panjang ke
lubang vaginanya dengan posisi
“doggy-style”. Tusukanku
semakin kencang. Nafsu
syahwatku kembali sangat
terangsang. Kali ini berkali-kali
aku mendorong dan menarik
penisku. Hentakanku memang
kasar dan ganas. Kuraih
pinggang Mbak Limah. Kemudian
beralih ke buah dadanya.
Kuremas-remas semauku, bebas.
Rambutnya acak-acakan.
Lama juga Mbak Limah menahan
lampiasan nafsuku kali ini. Hampir
setengah jam. Maklumlah ini
adalah kedua kalinya. Tusukanku
memang hebat. Kadang cepat,
kadang pelan. Kudorong-dorong
tubuh Mbak Limah. Dia melenguh.
Dengusan dari hidungnya
memanjang. Berkali-kali. Seperti
orang terengah-engah
kecapaian.“Ehh.. ek, Ekh, Ekh.”
Akirnya aku merasakan air
maniku hampir muntah lagi.
Waktu itu kurangkul kedua bahu
Mbak Limah sambil menusukkan
penisku ke dalam. Tenggelam
semuanya hingga ke pangkalnya.
Waktu itulah kumuntahkan
spermaku. Kutarik lagi, dan
kuhunjamkan lagi ke dalam. Tiga
empat kali kugoyang seperti itu.
Mbak Limah terlihat pasrah
mengikuti hentakanku.
Kemudian kupeluk tubuhnya
walaupun penisku masih
tertancap di dalam kemaluannya.
Kuelus-elus buah dadanya.
Kudekati mukanya. Kami
berciuman. Begitu lama hingga
terasa penisku kembali normal.
Mbak Limah sepertinya kelelahan.
Keringat bercucuran di dahi kami.
Kami telentang miring sambil
berpelukan. Mbak Limah terlihat
lemas lalu tertidur.
Melihat Mbak Limah begitu, dan
hujan masih belum reda, birahiku
bangkit kembali. Kurangkul tubuh
Mbak Limah dan aku bermain
sekali lagi. Kali ini Mbak Limah
menyerah. Dia tidak menolak.
Kumainkan kemaluannya sampai
puas. Bau di kamar ini adalah bau
air mani kami. Bunyi tempat tidur
pun berdecit-cit.“Ahh… aaghh.”
Sesudah itu perlahan-lahan aku
berdiri dan memakai kembali
pakaianku. Aku keluar dari kamar
Mbak Limah menuju ke ruang
depan. Sewaktu aku keluar,
barulah aku sadar pintu kamar
Mbak Limah tidak tertutup
rapat.
Rupa-rupanya kakak iparku
sudah pulang. Mendadak aku
pucat kalau-kalau kejadian tadi
disaksikan oleh kakak iparku. Aku
keluar sambil mencoba berlagak
seperti tidak terjadi apa-apa.
Kemudian aku duduk di sofa.
Sebentar kemudian kakak iparku
datang membawa minuman.
Kulihat mukanya biasa saja.
Kuyakinkan diriku bahwa kakak
iparku tidak tahu apa yang telah
terjadi tadi antara aku dengan
Mbak Limah.
Aku bertanya, “Abang tidak
pulang sama Mbak?”
“Tidak. Dia ke Singapore 4 hari!”,
jawabnya. Dia tersenyum.
“Minumlah!”, dia mempersilakanku.
Kemudian dia berjalan menuju ke
kamarnya. Aku duduk dan
menonton film“Airforce One”.
“Mbak sebentar lagi mau pergi,
ambil mobil di sana. Nanti malam
tolong kamu tidur di sini ya,
sekilan jaga rumah!”, katanya
pendek.
Memang bagitulah biasanya.
Kalau abangku tidak ada, aku
yang jadi sopir kakak iparku
untuk membawa Mercedez-nya
ke mana-mana. Malam itu aku
tidak pulang ke flatku. Tidur di
rumah abangku! Memang ada
kamar khusus untukku di
rumahnya yang cukup besar itu.
Tapi yang lebih spesial lagi bagiku
adalah tidur dalam pelukan Mbak
Limah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s