sang pramugariku

Standar

Aku adalah mahasiswi disebuah
universitas swasta di kota “S”,
nama initialku Rus, dan aku
pernah mengirimkan cerita
“Rahasiaku” kepada situs ini.
*****
Awal mula aku mengalami Making
Love dengan seorang wanita
yang mengubah orientasi
seksualku menjadi seorang
biseksual, aku mengalami
percintaan sesama jenis ketika
usiaku 20 tahun dengan seorang
wanita berusia 45 tahun, entah
mengapa semuanya terjadi
begitu saja terjadi mungkin ada
dorongan libidoku yang ikut
menunjang semua itu dan semua
ini telah kuceritakan dalam
“Rahasiaku.”
Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia
bernama Tante Maria, suaminya
seorang pedagang yang sering
keluar kota. Dan akibat dari
pengalaman bercinta dengannya
aku mendapat pelayanan
istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi
aku tak ingin menjadi lesbian
sejati, sehingga aku sering
menolak bila diajak bercinta
dengannya, walaupun Tante
Maria sering merayuku tetapi
aku dapat menolaknya dengan
cara yang halus, dengan alasan
ada laporan yang harus
kukumpulkan besok, atau ada
test esok hari sehingga aku
harus konsentrasi belajar,
semula aku ada niat untuk
pindah kos tetapi Tante Maria
memohon agar aku tidak pindah
kos dengan syarat aku tidak
diganggu lagi olehnya, dan ia pun
setuju. Sehingga walaupun aku
pernah bercinta dengannya
seperti seorang suami istri tetapi
aku tak ingin jatuh cinta
kepadanya, kadang aku kasihan
kepadanya bila ia sangat
memerlukanku tetapi aku harus
seolah tidak memperdulikannya.
Kadang aku heran juga dengan
sikapnya ketika suaminya pulang
kerumah mereka seakan tidak
akur, sehingga mereka berada
pada kamar yang terpisah.
Hingga suatu hari ketika aku
pulang malam hari setelah
menonton bioskop dengan teman
priaku, waktu itu jam sudah
menunjukkan pukul setengah
sebelas malam, karena aku
mempunyai kunci sendiri maka
aku membuka pintu depan,
suasana amat sepi lampu depan
sudah padam, kulihat lampu
menyala dari balik pintu kamar
kos pramugari itu,
“Hmm.. ia sudah datang,”
gumamku, aku langsung menuju
kamarku yang letaknya
bersebelahan dengan kamar
pramugari itu. aku bersihkan
wajahku dan berganti pakaian
dengan baju piyamaku, lalu aku
menuju ke pembaringan, tiba-
tiba terdengar rintihan-rintihan
yang aneh dari kamar sebelah.
Aku jadi penasaran karena suara
itu sempat membuatku takut,
kucoba memberanikan diri untuk
mengintip kamar sebelah karena
kebetulan ada celah udara
antara kamarku dengan kamar
pramugari itu, walaupun ditutup
triplek aku mencoba untuk
melobanginya, kuambil meja agar
aku dapat menjangkau lubang
udara yang tertutup triplek itu.
Lalu pelan pelan kutusukan
gunting tajam agar triplek itu
berlobang, betapa terkejutnya
aku ketika kulihat pemandangan
di kamar sebelahku. Aku melihat
Tante Maria menindih seorang
wanita yang kelihatan lebih
tinggi, berkulit putih, dan
berambut panjang, mereka
berdua dalam keadaan bugil,
lampu kamarnya tidak
dipadamkan sehingga aku dapat
melihat jelas Tante Maria sedang
berciuman bibir dengan wanita
itu yang mungkin pramugari itu.
Ketika Tante Maria menciumi
lehernya, aku dapat melihat
wajah pramugari itu, dan ia
sangat cantik wajahnya bersih
dan mempunyai ciri khas seorang
keturunan ningrat. Ternyata
pramugari itu juga terkena
rayuan Tante Maria, ia memang
sangat mahir membuat wanita
takluk kepadanya, dengan
sangat hati-hati Tante Maria
menjilati leher dan turun terus
ke bawah. Bibir pramugari itu
menganga dan mengeluarkan
desahan-desahan birahi yang
khas, wajahnya memerah dan
matanya tertutup sayu
menikmati kebuasan Tante Maria
menikmati tubuhnya itu. Tangan
Tante Maria mulai memilin puting
payudara pramugari itu,
sementara bibirnya menggigit
kecil puting payudara
sebelahnya. Jantungku berdetak
sangat kencang sekali menikmati
adegan itu, belum pernah aku
melihat adegan lesbianisme
secara langsung, walaupun aku
pernah merasakannya. Dan ini
membuat libidiku naik tinggi
sekali, aku tak tahan berdiri
lama, kakiku gemetaran, lalu aku
turun dari meja tempat aku
berpijak, walau aku masih ingin
menyaksikan adegan mereka
berdua.
Dadaku masih bergemuru. Entah
mengapa aku juga ingin
mengalami seperti yang mereka
lakukan. Kupegangi liang
vaginaku, dan kuraba klitorisku,
seiring erangan-erangan dari
kamar sebelah aku
bermasturbasi sendiri. Tangan
kananku menjentik-jentikan
klitorisku dan tangan kiriku
memilin-milin payudaraku sendiri,
kubayangkan Tante Maria
mencumbuiku dan aku
membayangkan juga wajah
cantik pramugari itu menciumiku,
dan tak terasa cairan membasahi
tanganku, walaupun aku belum
orgasme tapi tiba-tiba semua
gelap dan ketika kubuka mataku,
matahari pagi sudah bersinar
sangat terang.
Aku mandi membersihkan diriku,
karena tadi malam aku tidak
sempat membersihkan diriku. Aku
keluar kamar dan kulihat mereka
berdua sedang bercanda di sofa.
Ketika aku datang mereka
berdua diam seolah kaget
dengan kehadiranku. Tante Maria
memperkenalkan pramugari itu
kepadaku,
“Rus, kenalkan ini pramugari
kamar sebelahmu.”
Kusorongkan tangan kepadanya
untuk berjabat tangan dan ia
membalasnya,
“Hai, cantik namaku Vera,
namamu aku sudah tahu dari Ibu
Kos, semoga kita dapat menjadi
teman yang baik.”
Kulihat sinar matanya sangat
agresif kepadaku, wajahnya
memang sangat cantik,
membuatku terpesona sekaligus
iri kepadanya, ia memang
sempurna. Aku menjawab dengan
antusias juga,
“Hai, Kak, kamu juga cantik
sekali, baru pulang tadi malam.”
Dan ia mengangguk kepala saja,
aku tak tahu apa lagi yang
diceritakan Tante Maria
kepadanya tentang diriku, tapi
aku tak peduli kami beranjak ke
meja makan. Di meja makan
sudah tersedia semua masakan
yang dihidangkan oleh Tante
Maria, kami bertiga makan
bersama. Kurasakan ia sering
melirikku walaupun aku juga
sesekali meliriknya, entah
mengapa dadaku bergetar
ketika tatapanku beradu dengan
tatapannya.
Tiba-tiba Tante Maria
memecahkan kesunyian,
“Hari ini Tante harus menjenguk
saudara Tante yang sakit, dan
bila ada telpon untuk Tante atau
dari suami Tante, tolong katakan
Tante ke rumah Tante Diana.”
Kami berdua mengangguk tanda
mengerti, dan selang beberapa
menit kemudian Tante Maria
pergi menuju rumah saudaranya.
Dan tinggallah aku dan Vera sang
pramugari itu, untuk memulai
pembicaraan aku mengajukan
pertanyaan kepadanya,
“Kak Vera, rupanya sudah kos
lama disini.”
Dan Vera pun menjawab, “Yah,
belum terlalu lama, baru setahun,
tapi aku sering bepergian, asalku
sendiri dari kota “Y”, aku kos
disini hanya untuk beristirahat
bila perusahaan mengharuskan
aku untuk menunggu shift disini.”
Aku mengamati gaya bicaranya
yang lemah lembut menunjukan
ciri khas daerahnya, tubuhnya
tinggi semampai. Dari percakapan
kami, kutahu ia baru berumur 26
tahun. Tiba-tiba ia menanyakan
hubunganku dengan Tante Maria.
Aku sempat kaget tetapi kucoba
menenangkan diriku bahwa
Tante Maria sangat baik
kepadaku. Tetapi rasa kagetku
tidak berhenti disitu saja, karena
Vera mengakui hubungannya
dengan Tante Maria sudah
merupakan hubungan percintaan.
Aku pura-pura kaget,
“Bagaimana mungkin kakak
bercinta dengannya, apakah
kakak seorang lesbian,” kataku.
Vera menjawab, “Entahlah, aku
tak pernah berhasil dengan
beberapa pria, aku sering
dikhianati pria, untung aku
berusaha kuat, dan ketika kos
disini aku dapat merasakan
kenyamanan dengan Tante
Maria, walaupun Tante Maria
bukan yang pertama bagiku,
karena aku pertama kali
bercinta dengan wanita yaitu
dengan seniorku.”
Kini aku baru mengerti
rahasianya, tetapi mengapa ia
mau membocorkan rahasianya
kepadaku aku masih belum
mengerti, sehingga aku mencoba
bertanya kepadanya,
“Mengapa kakak membocorkan
rahasia kakak kepadaku.”
Dan Vera menjawab, “Karena aku
mempercayaimu, aku ingin kau
lebih dari seorang sahabat.”
Aku sedikit kaget walaupun aku
tahu isyarat itu, aku tahu ia
ingin tidur denganku, tetapi
dengan Vera sangat berbeda
karena aku juga ingin tidur
dengannya. Aku tertunduk dan
berpikir untuk menjawabnya,
tetapi tiba-tiba tangan
kanannya sudah menyentuh
daguku.
Ia tersenyum sangat manis
sekali, aku membalas
senyumannya. Lalu bibirnya
mendekat ke bibirku dan aku
menunggu saat bibirnya
menyentuhku, begitu bibirnya
menyentuh bibirku aku rasakan
hangat dan basah, aku
membalasnya. Lidahnya menyapu
bibirku yang sedkit kering,
sementara bibirku juga
merasakan hangatnya bibirnya.
Lidahnya memasuki rongga
mulutku dan kami seperti saling
memakan satu sama lain.
Sementara aku fokus kepada
pagutan bibirku, kurasakan
tangannya membuka paksa baju
kaosku, bahkan ia merobek baju
kaosku. Walau terkejut tapi
kubiarkan ia melakukan
semuanya, dan aku membalasnya
kubuka baju dasternya. Ciuman
bibir kami tertahan sebentar
karena dasternya yang kubuka
harus dibuka melewati wajahnya.
Kulihat Bra hitamnya menopang
payudaranya yang lumayan
besar, hampir seukuran
denganku tetapi payudaranya
lebih besar. Ketika ia
mendongakkan kepalanya tanpa
menunggu, aku cium leher
jenjangnya yang sexy,
sementara tanggannya melepas
bra-ku seraya meremas-remas
payudaraku. Aku sangat
bernafsu saat itu aku ingin juga
merasakan kedua puting
payudaranya. Kulucuti Bra
hitamnya dan tersembul
putingnya merah muda tampak
menegang, dengan cepat
kukulum putingnya yang segar
itu. Kudengar ia melenguh
kencang seperti seekor sapi, tapi
lenguhan itu sangat indah
kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk
tubuhnya, baru kurasakan saat
ini seperti seorang pria, dan aku
mulai tak dapat menahan diriku
lalu kurebahkan Vera di sofa itu.
Kujilati semua bagian tubuhnya,
kulepas celana dalamnya dan
lidahku mulai memainkan
perannya seperti yang diajarkan
Tante Maria kepadaku. Entah
karena nafsuku yang menggebu
sehingga aku tidak jijik untuk
menjilati semua bagian analnya.
Sementara tubuh Vera
menegang dan Vera menjambak
rambutku, ia seperti menahan
kekuatan dasyat yang
melingkupinya.
Ketika sedang asyik kurasakan
tubuh Vera, tiba-tiba pintu
depan berderit terbuka. Spontan
kami berdua mengalihkan
pandangan ke kamar tamu, dan
Tante Maria sudah berdiri di
depan pintu. Aku agak kaget
tetapi matanya terbelalak
melihat kami berdua berbugil.
Dijatuhkannya barang
bawaannya dan tanpa basa-basi
ia membuka semua baju yang
dikenakannya, lalu menghampiri
Vera yang terbaring disofa.
Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya
leher Vera secara membabi buta,
dan tanggannya yang satu
mencoba meraihku. Aku tahu
maksud Tante Maria, kudekatkan
wajahku kepadanya, tiba-tiba
wajahnya beralih ke wajahku dan
bibirnya menciumi bibirku. aku
membalasnya, dan Vera mencoba
berdiri kurasakan payudaraku
dikulum oleh lidah Vera. Aku
benar-benar merasakan sensasi
yang luar biasa kami bercinta
bertiga. Untung waktu itu hujan
mulai datang sehingga lingkungan
mulai berubah menjadi dingin, dan
keadaan mulai temaram. Vera kini
melampiaskan nafsunya menjarah
dan menikmati tubuhku,
sementara aku berciuman
dengan Tante Maria. Vera
menghisap klitorisku, aku tak
tahu perasaan apa pada saat
itu. Setelah mulut Tante Maria
meluncur ke leherku aku
berteriak keras seakan tak
peduli ada yang mendengar
suaraku. Aku sangat tergetar
secara jiwa dan raga oleh
kenikmatan sensasi saat itu.
Kini giliranku yang dibaringkan di
sofa, dan Vera masih meng-oral
klitorisku, sementara Tante
Maria memutar-mutarkan
lidahnya di payudaraku. Akupun
menjilati payudara Tante Maria
yang sedikit kusut di makan usia,
kurasakan lidah-lidah mereka
mulai menuruni tubuhku. Lidah
Vera menjelejah pahaku dan lidah
Tante Maria mulai menjelajah
bagian sensitifku. Pahaku dibuka
lebar oleh Vera, sementara
Tante Maria mengulangi apa
yang telah dilakukan Vera tadi,
dan kini Vera berdiri dan kulihat
ia menikmati tubuh Tante Maria.
Dijilatinya punggung Tante Maria
yang menindihku dengan posisi
69, dan Vera menelusuri tubuh
Tante Maria. Tetapi kemudian ia
menatapku dan dalam keadaan
setengah terbuai oleh
kenikmatan lidah Tante Maria.
Vera menciumi bibirku dan aku
membalasnya juga, hingga tak
terasa kami berjatuhan dilantai
yang dingin. Aku sangat lelah
sekali dikeroyok oleh mereka
berdua, sehingga aku mulai pasif.
Tetapi mereka masih sangat
agresif sekali, seperti tidak
kehabisan akal Vera
mengangkatku dan mendudukan
tubuhku di kedua pahanya, aku
hanya pasrah. Sementara dari
belakang Tante Maria menciumi
leherku yang berkeringat, dan
Vera dalam posisi berhadapan
denganku, ia menikmatiku,
menjilati leherku, dan mengulum
payudaraku. Sementara tangan
mereka berdua menggerayangi
seluruh tubuhku, sedangkan
tanganku kulingkarkan
kebelakang untuk menjangkau
rambut Tante Maria yang
menciumi tengkuk dan seluruh
punggungku.
Entah berapa banyak rintihan
dan erangan yang keluar dari
mulutku, tetapi seakan mereka
makin buas melahap diriku.
Akhirnya aku menyerah kalah
aku tak kuat lagi menahan
segalanya aku jatuh tertidur,
tetapi sebelum aku jatuh
tertidur kudengar lirih mereka
masih saling menghamburkan
gairahnya. Saat aku terbangun
adalah ketika kudengar dentang
bel jam berbunyi dua kali,
ternyata sudah jam dua malam
hari. Masih kurasakan dinginnya
lantai dan hangatnya kedua
tubuh wanita yang tertidur
disampingku. Aku mencoba untuk
duduk, kulihat sekelilingku sangat
gelap karena tidak ada yang
menyalakan lampu, dan kucoba
berdiri untuk menyalakan semua
lampu. Kulihat baju berserakan
dimana-mana, dan tubuh
telanjang dua wanita masih
terbuai lemas dan tak berdaya.
Kuambilkan selimut untuk mereka
berdua dan aku sendiri
melanjutkan tidurku di lantai
bersama mereka. Kulihat wajah
cantik Vera, dan wajah anggun
Tante Maria, dan aku peluk
mereka berdua hingga sinar
matahari datang menyelinap di
kamar itu.
Pagi datang dan aku harus
kembali pergi kuliah, tetapi
ketika mandi seseorang
mengetuk pintu kamar mandi dan
ketika kubuka ternyata Vera
dan Tante Maria. Mereka masuk
dan di dalam kamar mandi kami
melakukan lagi pesta seks ala
lesbi. Kini Vera yang dijadikan
pusat eksplotasi, seperti
biasanya Tante Maria menggarap
dari belakang dan aku
menggarap Vera dari depan.
Semua dilakukan dalam posisi
berdiri. Tubuh Vera yang tinggi
semampai membuat aku tak
lama-lama untuk berciuman
dengannya aku lebih
memfokuskan untuk melahap
buah dadanya yang besar itu.
Sementara tangan Tante Maria
membelai-belai daerah sensitif
Vera. Dan tanganku menikmati
lekuk tubuh Vera yang memang
sangat aduhai. Percintaan kami
dikamar mandi dilanjutkan di
ranjang suami Tante Maria yang
memang berukuran besar,
sehingga kami bertiga bebas
untuk berguling, dan melakukan
semua kepuasan yang ingin kami
rengkuh. Hingga pada hari itu
aku benar-benar membolos
masuk kuliah.
Hari-hari berlalu dan kami
bertiga melakukan secara
berganti-ganti. Ketika Vera
belum bertugas aku lebih banyak
bercinta dengan Vera, tetapi
setelah seminggu Vera kembali
bertugas ada ketakutan
kehilangan akan dia. Mungkin aku
sudah jatuh cinta dengan Vera,
dan ia pun merasa begitu. Malam
sebelum Vera bertugas aku dan
Vera menyewa kamar hotel
berbintang dan kami
melampiaskan perasaan kami dan
benar-benar tanpa nafsu. Aku
dan Vera telah menjadi kekasih
sesama jenis. Malam itu seperti
malam pertama bagiku dan bagi
Vera, tanpa ada gangguan dari
Tante Maria. Kami bercinta
seperti perkelahian macan yang
lapar akan kasih sayang, dan
setelah malam itu Vera bertugas
di perusahaan maskapai
penerbangannya ke bangkok.
Entah mengapa kepergiannya ke
bandara sempat membuatku
menitikan air mata, dan mungkin
aku telah menjadi lesbian. Karena
Vera membuat hatiku dipenuhi
kerinduan akan dirinya, dan aku
masih menunggu Vera di kos
Tante Maria. Walaupun aku selalu
menolak untuk bercinta dengan
Tante Maria, tetapi saat
pembayaran kos, Tante Maria
tak ingin dibayar dengan uang
tetapi dengan kehangatan
tubuhku di ranjang. Sehingga
setiap satu bulan sekali aku
melayaninya dengan senang hati
walaupun kini aku mulai melirik
wanita lainnya, dan untuk
pengalamanku selanjutnya
kuceritakan dalam kesempatan
yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s